Aku hanya punya kata dan hati
bukan bulan ataupun matahari
Kau mengenalku ketika malam tadi kita bicara tentang kupu-kupu
tentang sayap warna warni
dan hidup yang terus mengalir
Aku mengenalmu ketika malam tadi kita bicara tentang kupu-kupu
tentang kepompong kering
dan dunia yang rumit
Aku tidak lagi berdiri pada titik itu
karena kau telah bercerita tentang dongeng malam yang hitam
sampai aku mampu memaknai putih dan warna
Aku endapkan sisa malam pada deretan kata tua
semua habis tertuang di sini
Aku nyalakan lilin malam untukmu
agar semua tampak temaram
bukan kelam ataupun terang
tapi tetap temaram
Apakah sajak temaram ini juga berkisah tentang kupu-kupu
atau takdir?
Andai saja takdir adalah sebuah kata
maka ia akan terus aku hapus dan kutulis ulang karenamu
lalu kita bangun takdir kita bersama
Aku mengundang kupu-kupu malam ini
waktu seakan diam sejenak
membiarkan lelaki dan kupu-kupu bersapa
bukan untuk siapa-siapa
hanya untukku dan untuknya
biarkan lelaki dan kupu-kupu bersama
sebelum ia kembali jadi kepompong kering dan ulat daun.
lelaki
kupu-kupu
aku mencintaimu!
Surabaya, Equator 211
14 Agustus 2008