November 13, 2009 by sutarsa
Seperti kelahiran Panchali, malam ini aku dapati diriku sedang duduk dihadapan harian yang sudah terlampau lama tidak aku tulisi. Terlalu banyak kisah yang ingin aku luapkan di halaman-halaman putihnya. Barangkali ada juga ceritamu di dalamnya. Aku tidak akan mengawali halaman baru ini dengan umpatan ataupun pujian, melainkan menuliskan kisah kontemplatif bagi kita semua.
Ada yang istimewa ketika aku melihat bara dupa yang kian redup, selanjutnya debu beterbangan bersama wewangian asap. Aromanya memasuki hidung dan mengendap di dasar memori, sedang debunya lekat di pori. Aku mencoba mengingat kisah Mahabrata bersama bara dupa yang kian redup, mulai kelahiran Panchali dari api pemujaan selama 100 hari, sampai hari kematiannya di pertengahan Himalaya yang agung. Tentu dia bukan berkah yang diharapkan untuk hadir, melainkan dia adalah penyerta kelahiran Dre, kakaknya. Keduanya membawa takdir masing-masing, yang akan menorehkan sejarah panjang di kelana Pandawa. Aku menemukan diriku larut dalam kisah-kisah kelahiran seperti itu, membayangkan kedekatan para dewa dengan manusia. Membayangkan hal yang mustahil tentang kelahiran sepasang saudara dari api, yang konon katanya atas perintah Khrisna. Tentu akhirnya ini menjadi satu cerita yang barangkali tidak mampu diperdebatkan ditatanan harfiah, melainkan harus ditembus lebih dalam, dan diperdebatkan dijajaran esensi. Sama ketika kita mendiskusikan tentang keniscayaan surga dan neraka: bahkan diakhir hidupnya, di pertengahan Himalaya, pertanyaan menarik diajukan oleh Panchali “Apakah surga dan neraka itu benar-benar ada?” Lalu dengan ringan Khrisna menjawab bisa ada, bisa juga tidak. Percakapan ini membuatku merenung, kalau pada epos besar tersebut juga tidak ada kepastian tentang surga dan neraka, adakah hal lain yang juga masih menjadi teka-teki sampai saat ini? Continue Reading »
Posted in Refleksi | Tagged Generasi Muda, Indonesia, Mahabrata, Sejarah | 1 Comment »
February 3, 2009 by sutarsa
Malam-malam gigil, aku titipkan sisa nafas di tubuhmu….
memburu langit pada barisan gerimis.
Hari berlari diatas rumput basah,
enggan bersapa gelisah atau gundah….,
kenanga kuning yang lirih,
biar saja mereka saling benci…
malam hanya siang tanpa matahari,
tak perlu meranggas….
kupas saja bintang biar terang….
Lebah madu beradu rindu di ujung putik,
cumbui aku yang haus sinar….
berikan kunang-kunang atau bintang…
bukan mentari atau redup lilin yang leleh….
maka aku titipkan sisa nafas padamu…
malam-malam yang gigil…..
Posted in Puisi | 5 Comments »
January 10, 2009 by sutarsa
Aku tuliskan takdir ini lewat luka dan kecewa. Bukan untuk Tuhan yang tidak bisa adil, atau Kau yang tidak pernah setia, tapi pada waktu, yang selalu membuatku tidak berdaya. Continue Reading »
Posted in Cerpen | Tagged Cerita, Hindu, Pantai, Pasir, Perempuan, Ziarah | 1 Comment »
January 9, 2009 by sutarsa
Angin yang bergulung menerbangkanku ke pangkuanmu. Butir-butir pasir yang halus adalah serpihan hatiku. Maafkan jika aku hinggap di matamu, lalu kau menangis. Aku hanya butir pasir, sama seperti debu atau kerikil hitam. Siapakah yang terluka sesungguhnya? Aku tidak sedang bercerita pada malam ataupun mengeluh pada Tuhan, tapi aku sedang mencoba berkompromi dengan takdirku, menjadi hujan, menjadi air, yang terus mengalir menuju hilir: Kembali ke Asal! Continue Reading »
Posted in Refleksi | Tagged Air, Pilihan, Takdir, Tangis | Leave a Comment »
October 10, 2008 by sutarsa
Wajahnya setengah tertunduk, matanya mengiba meminta belas kasihan pada kalian semua. Semakin lama mata itu semakin redup, wajahnya semakin tertunduk, menyesakkan bentuknya ke dalam ruang batin yang rapuh. Siapakah yang hilang rasa, aku atau kalian? Wajah itu seketika menengadah, matanya nanar tajam, serupa belati purba yang haus darah. Semangatnya menggebu, semangat untuk berjuang, semangat untuk hidup, dan mencoba berkawan dengan virus-virus yang lucu ini.
Bolehkah aku meminta segelas harapan pada bulan malam? Manusia sudah terlampau miskin dengan kasih sayang. Aku tidak lagi mengenali rupa-rupa kerabat. Mereka semua menghilang, sesaat setelah aku keluar dari rumah sakit. Angin terlalu kencang meniup isu, cerita tentang hasil tes VCT yang aku jalani seketika menjadi jajanan kopi susu di warung-warung. Bahan obrolan sore hari ibu-ibu PKK, bahkan contoh terkutuk yang selalu didengungkan para pendakwah. Aku tidak sedang mencari pembenaran atas penyakitku, aku hanya ingin mereka mengerti kalau aku juga seorang manusia yang lemah, manusia yang lahir dari dosa dan rasa haus: haus kasih, haus teman, haus penghargaan, haus cinta, haus persamaan! Continue Reading »
Posted in Artikel | Tagged Dukungan, Empati, HIV dan Aids, Remaja | 9 Comments »
September 9, 2008 by sutarsa
Ada sepasang mata
yang saling berebut udara malam ini,
melintasi kabut tanpa percakapan,
sepasang mata yang bening
cerita tentang tembang asmara
atau tentang bunga rumput yang diterbangkan angin.
Aku tertunduk menyembunyikan pandang
pada dingin di pori-pori
ruang itu terlampau sempit
rasa atau asa, semakin sesak
rahasia itu terungkap
menetas dari siluet cinta yang samar
Malam yang muram
berikan aku satu sisimu
aku habis kata
yang tersisa hanya rasa
degup jantung dan sisa nafas
sebentar lagi akan menguap
mata bening sepasang matamu
aku menyimpan rindu pada sinarmu
Mata bening sepasang matamu
bayangku tersangkut redup matamu
linglung tak kenal jalan pulang
ia tersesat dan memilih diam disana
dalam bening sepasang matamu.
Posted in Puisi | Tagged Bening, Cinta, Mata, Puisi | 7 Comments »
September 8, 2008 by sutarsa
“Aku tuliskan takdir ini untukmu, sebagai perlawanan atas kekuasaan waktu, yang selalu membuat manusia tidak berdaya. Kerutan diantara senyum liat, rambut-rambut putih, atau tulang kita yang semakin keropos. Jika Tuhan tidak bisa menciptakan waktu bagi Sang Waktu, mari kita gariskan nasibnya pada tangan-tangan ajaib kita”
Continue Reading »
Posted in Refleksi | Tagged Ayah, Kapitalisme, Kebebasan, Kerja, Waktu | Leave a Comment »
August 29, 2008 by sutarsa
Jika saat ini sampai, aku tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa.
Kapankah kali terakhir kita menyusuri Kuta di senja hari,
sama-sama memuji buih yang lembut.
Bergulungan di pasir, lalu kita kehilangan butir senja yang redup,
yang tersisa adalah kerlip bintang, debur ombak, dan dirimu disampingku.
Dulu aku pernah membayangkan luluh di peluhmu seperti malam tadi,
tidak ada kata ataupun kalimat yang terucap,
mata punya bahasa,
lidah juga punya kata,
dan rasa memang tak perlu dikata.
-Kuta, 29 Agustus 2008-
Posted in Puisi | Tagged Cinta, Kuta, Malam, Puisi, Renungan | 11 Comments »
August 26, 2008 by sutarsa
Kehidupan yang bernilai dan bermakna adalah perpaduan antara kreativitas dan kerja keras. Pemikiran kreatif akan membentuk jiwa yang peka terhadap kehidupan, lingkungan, seni, dan keilmuan sehingga dapat mengembangkan gerak yang berkualitas. Kaum muda yang memiliki daya kreatif dan pemikiran kritis adalah ujung tombak berbagai aspek kehidupan bangsa. Oleh karena itu, penentu masa depan bangsa adalah kualitas dan integritas diri kaum muda. Tantangan ini semakin jelas ketika globalisasi mulai merambah tatanan kehidupan masyarakat kita. Banyak pihak yang menyatakan bahwa globalisasi merupakan sebab dari segala perubahan dan krisis yang kita alami. Continue Reading »
Posted in Artikel | Tagged Empati, Komunitas, Kreatif, Kritis, Sahaja | 1 Comment »
August 19, 2008 by sutarsa
Laki-laki itu melintas diantara kerumunan. Dia tersenyum, aku mengenal senyum itu, juga busana yang dikenakannya. Ia menyelinap diantara pikiran, singgah pada ragu, namun muncul di keheningan. Setiap aku sadar, dan melihat jembatan itu, yang tersisa hanya wajah-wajah asing yang riang. Mereka semua menghiasi keningnya dengan butir beras, yang wanita semakin anggun dengan kebaya dan selendang yang melingkari pinggang. Lelaki-lelaki itu semakin gagah dengan safari dan destar yang melingkari kepala. Tapi, laki-laki itu melintas sangat cepat. Aku tak sanggup membaca geraknya, lalu ia menghilang sesaat setelah melambaikan tangannya, entah untukku atau untuk orang lain. Bungkusan kecil berwarna merah di tangan kanannya, aku juga mengenalnya. Oleh-oleh masa kecil yang selalu diberikan ayahku saat aku menangis. Rasanya sangat lembut dan manis. Cukup sepotong kecil, letakkan di ujung lidah, maka ia akan mencair menjadi obat yang ampuh untuk tangisku. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Angin sangat peka, dia berhembus lembut, membawa sisa kabut untuk mengendap dipermukaan kulit. Udara menjadi semakin dingin. Apakah kabut ini juga ingin mengatakan sesuatu? Ia membelai kulitku dengan lembut. Selembut angin dan senyum ayahku. Laki-laki kabut, aku ingin menjumpaimu. Meminta potongan gula merah yang ada di tanganmu. Obati hatiku yang luka! Continue Reading »
Posted in Cerpen | Tagged Bapak, Batur, Duka, Hindu, Hyang Widi, Karmaphala, Tuhan | 5 Comments »