Detik dan roda itu selalu berebut ruang. Entah siapa yang akan tersingkir. Tidak sekedar kalah, melainkan siapa yang akan terbunuh dan siapa yang akan jadi pembunuh. Detik bisa menjadi awal dan akhir roda pedati, lalu roda itu terus dipaksa menggelinding mengikuti putaran detik, setiap detik semakin kencang, lalu brak hancur menghantam dinding yang angkuh. Sejenak roda terhenti dan tidak lagi berada pada ruang yang sama, tapi detik terus berputar, tapi roda berhenti berputar. Roda stabil kembali, lalu dipaksa berputar oleh detik, semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat: lalu detik berhenti dan rodapun diam seketika. Siapakah yang kalah, siapakah yang tersingkir?
Seandainya waktu bisa kuputar ulang, aku ingin kembali ke satu masa kanak-kanakku dulu. Saat aku masih berkawan dengan sungai dan sawah. Mereka tidak mengajariku bermimpi, tapi menikmati detik-detik yang aku punya. Mimpi hanya hayalan katanya. Aku menutup rapat kedua telingaku, ketika mereka tidak mengerti tentang mimpi. Aku seorang pemimpi, berlarian di awan dan tumbuh jadi bintang.
Setiap detik berdenting, usia juga menua. Waktu selalu begitu, membuat kita bertambah tua, memahat kerutan di kening, mewarnai rambut jadi uban, atau tulang yang semakin keropos. Waktu selalu saja membuat kita menjadi manusia yang tidak berdaya. Ini membuatku terus bertanya, apakah tidak ada waktu untuk Sang Waktu? Kapan waktu akan menjadi tua? Lalu dimana dia akan dikubur kalau dia mati ?

