Kunang-kunang yang temaram, jujurlah padaku………
Dari mana kau datang, benarkah dari pecahan kuku-kuku mayat di kuburan?
Aku tahu kau sama bisu sepertiku, maka tuliskan di dinding sana semua kisahmu…
Agar aku mengerti ceritamu…….
Setiap sesal yang kusimpan selalu menjelma jadi gelap. Ia tak pernah mampu membaca isyarat bumi, bayanganku dilumat! Aku dicipta dari tanya, hingga semua ruang menganga, ingin memberi jawab bagi tubuhku. Di darahku mengalir dendam, yang dulu bersenggama dengan ibuku. Jika lubang itu adalah rumahku, dan rahim itu adalah selimutku, akupun ingin memilikinya. Adelia, kaulah diriku……..
12 Maret 1999, 05.55 pagi :
Sekali saja biarkan aku memeluk bulan. Aku terlalu riang membayangkan wajahnya yang bulat penuh. Aku semalam suntuk menatap purnama yang sedang kasmaran, tepat sesaat setelah ayam berkokok, cahayanya mulai direbut matahari, atau sebaliknya, bulan yang meminjam sinar mentari untuk mempercantik dirinya ? Adelia…., sungguh sempurna wajah bulan, seperti wajahmu yang dipoles bedak dan diwarnai gincu tipis merah muda. Hidung mangir, dagu meruncing, alis lengkung seperti bulan sabit malu-malu, dan bulu mata yang lentik. Adelia…. mahluk paling sempurna. Di dadamu menyembul daging yang kenyal dan padat, keduanya kau sembunyikan di balik korset putih motif bunga-bunga, tengkuk yang jenjang licin dipadu aroma Misake, menambah pesonamu. Adelia semua mata lelaki berlari bagai pelor, menancap dalam di belahan payudaramu yang sempit. Tangan-tangan haus bertebaran seperti mata panah, menghujam di kedua payudaramu. Perempuan-perempuan jalang akan menatap sinis di matamu, karena matamu indah. Adelia….aku menggilaimu!
12 Maret 2008, pukul 17.00 sore
Ketika langit dan kitab-kitab usang tidak lagi kurasa teduh, alkohol dan rokok yang memberiku nikmat. Memang, nikmat itu dosa. Setiap teguk, darahku akan mengental jadi dosa. Setiap hisapan akan membawa sesal, semakin lama terasa semakin gelap.
12 Maret 1999, 06.00 sore
Aku selalu merenung dipinggiran sungai, menatap arus nasibku yang terbentur kerikil dan batu hitam. Ketika orang-orang sibuk mengambil wudu’ dan bersiap menjalankan ibadah, aku merenung dan seketika menjelma musafir. Arus sungai menjadi temanku. Dia selalu mengikuti angin, sekuat apapun ia melawan, ia hanya akan menjadi buih. Perjuangan yang sia-sia. Dia tidak pernah menyesal, sampai satu saat kemarau membunuhnya. Apakah arusmu sama seperti arus nasibku ? Adelia kembali melintas di depanku. Kali ini ia menggunakan kerudung kuning, badannya dibalut busana muslim, sangat manis. Ia membawa kitab di tangannya, sayang aku tak dapat melihat dagingmu. Singkirkan saja buku itu, mataku tak sanggup menembusnya. Ayat-ayat suci di dalamnya membutakan mataku. Adelia singkirkan kitab itu…..
***
Aku meninggalkan rumah saat aku berusia 10 tahun. Aku tinggal di satu Seminari. Aku mendapat tanggungan untuk sekolah, makan, dan tempat tinggal. Jejakku tak lagi dapat dilacak oleh ibuku. Aku sempat hinggap dari satu seminari ke seminari lainnya. Aku menemukan banyak cinta, dan aku mulai mengenali diriku. Inilah pertama kali aku menjalani hari sebagai manusia yang jujur, tidak memakai topeng. Dia sangat menarik hatiku. Matanya yang sendu seperti hendak mengatakan sesuatu. Kami menghabiskan malam bersama, dia diatasku, aku dibawahnya. Setiap malam kami hanya terpisah jarak satu meter dan disekat oleh sebongkah triplek berukuran dua meter kali seratus dua puluh sentimeter. Setiap desah nafasnya adalah semangatku. Dia membuatku menjadi seorang manusia yang sempurna. Dia memberiku harapan, harapan untuk menjalani hidupku bersamanya. Namun semuanya tidak seperti yang kubayangkan, Adelia kapankah tubuh kita akan menyatu……………
Setiap hari kepalaku hanya dipenuhi oleh bayangan wajah dan tubuhnya. Aku menginginkannya, satu kali saja lalu aku akan menghilang.
Malam-malam yang agung,
roh kudus yang mulia,
dimanakah kau simpan takdirku ?
Jika kau adalah Tuhanku,
kirimkan aku seribu kunang-kunang malam ini.
Aku ingin bukti kebesaranmu,
aku menuntut doaku di malam Misa.
Malam semakin gelap. Ia mendekatiku di ranjang. Aku menggigil ketika kami bersentuhan. Getaran-getaran semakin lama semakin kuat. Aku menginginkanmu, aku sangat menginginkanmu. Apakah kau juga seperti Hen ? Lelaki yang menyukai Yesus. Aku sering melihatnya bercengkrama dengan Bram, mereka bersentuhan lalu mengenali rasa masing-masing dengan lidahnya. Hampir disetiap purnama mereka berjanji di tepi perigi. Saat semua orang lelap, mereka justru semakin garang, semakin hidup, semua kain dibuka, semua topeng dilepas, dua mahluk saling mengasihi. Ritual malam setelah mereka disalib 30 hari. Apakah kau juga seperti Hen, atau seperti Bram ? Katakan Ya, maka aku akan menjadi Adelia….
***
12 Maret 1999, pukul 20.00 malam
Aku mendengar suara pintu terketuk. Ternyata itu adalah suara jendela kayu, yang diketuk berkali-kali. Aku membukanya perlahan, Adelia…… dia datang tanpa busana, kali ini aku melihat tubuhnya, kulitnya sangat bersih dan licin, pinggangnya sangat ramping, dan saat ini ia terbentang di ranjangku. Dia memiliki lubang seperti ibuku, pasti dia juga punya rahim seperti ibuku. Aku sangat mengenali tanda lahir yang ada di pahanya, bentuk dan warnanya serupa dengan yang kupunya. Di pahanya tanda itu tampak sangat menggoda, aku ingin menyentuhnya, menciumnya. Aku juga sangat mengenali andeng-andeng di perutnya, sama seperti yang kupunya. Dia semakin dekat kearahku, lalu kami menyatu. Ibu membangunkanku, Adelia aku menunggumu malam ini!
12 Maret 2008, 19.00 sore
“Kemarin aku bertemu dengan Lia, perempuan cantik yang sering kita jumpai di gereja. Aku sangat memujanya. Wajahnya seperti bulan purnama, dagunya runcing, hidungnya mangir, alisnya melengkung seperti bulan sabit malu-malu, bulu matanya yang lentik. Dia adalah gadis yang kucinta. Tubuhnya menebar aroma Misake, aku tergila-gila padanya, sungguh aku sangat mencintainya!” Aku selalu mengingat saat Ade berbisik di telingaku, ceritanya seperti sambaran petir, tapi desahnya seperti air yang mengaliri dahagaku. Aku diam, karena aku terbakar. Diam-diam aku juga mencintai Yesus. Diam-diam aku juga mencintai Ade. Bunda……, Bunda Maria……… siapa yang harus disalahkan atas takdirku ? Bolehkah aku menyalahkan Anakmu, atau aku harus menyalahkan sperma ayahku karena ia menyumbangkan kromosom Y kepadaku, aku tidak akan menyalahkan ibuku karena ia tidak berdaya. Apakah dengan mencintai Ade aku akan disalahkan ? Apakah laki-laki dilarang mencintai laki-laki. Apakah aku harus mencintai perempuan, atau aku harus menjadi perempuan untuk mendapatkannya ? Kirimkan aku seribu kunang-kunang dan aku akan pergi menemukan Adelia…..Kunang-kunang hadir, satu demi satu, mereka bergerombol membentuk cahaya obor tanpa asap, lalu mereka berputar-putar, dan akupun menghilang. Adelia hadir ditengah-tengah!
12 Maret 1994, 22.00 malam:
Aku tidak akan jauh meninggalkan kalian. Kau adalah semangatku, anak kita adalah jiwaku. Jika doamu dijawab dengan hadirnya 1000 kunang-kunang, maka saat itu aku telah menghilang menemui Tuhan di sorga. Inilah petunjukmu dan anakku, saat bimbang, saat kalian ragu, mintalah seribu kunang-kunang sebagai petunjuk, lalu kalian akan menghilang tanpa jejak.
12 Maret 2008, 17.30 sore
Bertahun yang lalu, bapak pergi meninggalkan rumah. Entah kemana ia pergi, aku tidak pernah tahu. Aku hanya mengerti ia meninggalkan ibu dan aku. Aku membenci bapak. Setiap malam aku selalu berdoa supaya aku dikirimkan kunang-kunang, supaya ia pergi ke sorga. Aku selalu meminta seribu kunang-kunang pada Tuhan, pada Allah, pada Yesus, pada Maria, pada langit, dan pada ibuku. Aku hanya lelaki mungil 10 tahun, aku belum pernah melihat 1000 kunang-kunang. Aku ingin menghilang, aku ingin bapak menghilang ke sorga, aku meminta seribu kunang-kunang pada-Mu. Aku ingin menemui Adelia. Kunang-kunang hadir, satu demi satu, mereka bergerombol membentuk cahaya obor tanpa asap, lalu mereka berputar-putar, dan akupun menghilang.
Aku mengikuti arah kunang-kunang
Bukan untuk-Mu, tapi untuk Adelia
Segala gelap adalah sesal
Segala tanya adalah dosa
Aku mencari Adelia, bukan mencari-Mu
Aku meninggalkan Ade, dan mengubur tubuh Lia dibalik bukit sebelah seminari. Aku menanam pohon melati diatasnya. Lalu aku pergi mengikuti arah kunang-kunang. Aku pergi mengikuti kuku-kuku mayat, mungkin juga disana ada kuku bapak dan kuku – kuku Lia. Aku pergi menemui Adelia! Aku pergi meninggalkan laki-lakiku, entah dia menangis karena aku telah membunuh gadisnya. Aku tak sanggup melihatnya menangis, tapi aku tak mau ia mencintai perempuan lain, dia milikku, dia milik Adelia.
12 Maret 2008, Malam Misa,
Aku datang dengan penuh dosa, aku datang untuk menemuimu. Jika alkohol membuat darahku mengental, maka senyummu akan mencairkannya. Jika asap rokok membuat paru-paruku mengkerut, maka suaramu akan memberinya nafas hidup yang baru. Aku kembali untuk pengakuan dosa. Aku yang telah memohon pada Maria agar bapak dikirim ke sorga, aku yang telah menusuk jantung Lia dan mengubur tubuhnya, aku telah mengingkari kelaminku, aku telah melelang tubuhku dijalanan, aku telah meracuni darahku dengan dendam, aku adalah Adelia.
Jika darahku bisa membuat mereka mengerti
Maka akan kuberikan tetesnya
Mungkin aku akan dijemput kunang-kunang
Lalu berputar-putar
dan menghilang


Wau!!!
Indah kak. bahasanya benar-benar indah. Saya enggak punya kata lain lagi. kompleksitas yang terjalin rapi. ada sebagian nyawa puisi disana. Namun akhirnya tetap menyatu menjadi prosa. Saya jadi ingat dengan gaya tulisan Putu Wijaya. berbeda tentu, namun entah kenapa ketika membacanya gaya ini terasa familiar.
Tapi di akhir kembali saya dilanda kebingungan. perbedaan waktu….masih belum saya pahami kenapa. Namun….mungkin ini tentang homoseksualitas, benarkah? Tapi saya menyimpulkannya hanya dari sebaris kalimat yang berupa pertanyaan “Apakah laki-laki dilarang mencintai laki-laki. Apakah aku harus mencintai perempuan, atau aku harus menjadi perempuan untuk mendapatkannya ?”. Tapi kesimpulan itu saya ragukan kalau membaca ulang tulisan ini dari awal hingga akhir. Seperti ada dua peran berbeda yang bercerita didalmnya. Terutama segmen 12 maret 2008, dan saya belum bisa mengerti kak.
Wow…..kebingungan yang indah
Bukan semata-mata karena homoseksualitas, tetapi lebih kepada kejujuran dan keberanian. Puisi dan prosa, puisi dan cerita, dalam semua penggambaranku memang tidak bisa dilepaskan. Saling mengait. Biarkan kebingungan itu terus hadir tanpa ujung, jika ia bertemu jawab, saat itulah kita sesungguhnya berhenti belajar!