Apakah yang kita bayangkan jika kita dihadapkan pada frase ikan panggang? Mungkin rasa gurih, aroma amis yang menusuk, atau tawa girang yang renyah? Memang rasanya sangat harmonis, seperti permen nano nano yang manis, asam, dan asin. Tidak mudah mengecap aneka rasa pada saat yang bersamaan. Tapi itulah yang aku rasakan ketika manggang ikan beramai-ramai di Kisara. Sejenak kita tertawa merayakan indahnya hari ulang tahun, namun kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya kita telah menghabiskan satu tahun dari entah berapa tahun yang kita punya. Akan selalu seperti ini, detik berganti menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi bulan, bulan menjadi tahun, sampai keriput mulai mewarnai hari-hari kita. Bagaimanapun pola waktu yang monoton, tetapi hidup ternyata sangat dinamis. Dari detik ke detik hidup selalu berubah. Manakah yang sesungguhnya abadi : waktu atau perubahan ?



jawabnya perubahan itu sendiri tzu..oya, mana cerita yang waktu rame-rame ke besakih nih.ditunggu.
Salam kenal sebelumnya mas
saya dapat alamat blog mas dari mas Okanegara
Untuk Ikan Bakar atau Ikan Panggang saya yakin klo mas mencoba menu kuliner sulawesi selatan akan merasa tabjuk dengan ini Ikan Panggang nya dengan menambahkan Cabe Khas yang sudah di ulek akan terasa Wowwwwwww
Pada saat kita melakukan sebuah perubahan waktu akan menjawabnya sebaliknya pada saat kita hanya terpaku dengan waktu perubahan takkunjung kita dapatkan. jadi defenisinya bahwa Perubahan lebih Abadi dibandingkan Waktu mas
Pasti diterbitkan Dok, hanya tinggal merapikan kalimatnya sedikt demi sedikit. Tapi yang ini agak panjang, mungkin akan dibagi menjadi 3 bagian hehe…. (mengikuti saran yang ahli…)
Pertanyaan mengenai perubahan dan waktu, saya kembalikan ke pribadi masing-masing saja, karena ini sebuah renungan supaya kita tidak diberdaya oleh waktu!
Salam kenal juga, sepertinya menu kuliner yang ditawarkan sangat gurih, rasanya pasti lebih menggigit kalau ditambah rasa perduli dan nuansa pertemanan…..
Pertanyaan mengenai perubahan dan waktu, saya kembalikan ke pribadi masing-masing saja, karena ini sebuah renungan supaya kita tidak diberdaya oleh waktu!
Yang abadi adalah ketidakabadian. Btw, begitu mendengar frase ikan panggang yang langsung terpikir adalah JIMBARAN. haha…
wah iya Ded, ikan panggang di Jimbaran memang sedap, apalagi diiringi grup pengamen pinggir pantainya…..
Apapun yang abadi dan yang tidak, mari kita renungkan sama-sama.