Aku hanya punya kata dan hati
bukan bulan ataupun matahari
Kau mengenalku ketika malam tadi kita bicara tentang kupu-kupu
tentang sayap warna warni
dan hidup yang terus mengalir
Aku mengenalmu ketika malam tadi kita bicara tentang kupu-kupu
tentang kepompong kering
dan dunia yang rumit
Aku tidak lagi berdiri pada titik itu
karena kau telah bercerita tentang dongeng malam yang hitam
sampai aku mampu memaknai putih dan warna
Aku endapkan sisa malam pada deretan kata tua
semua habis tertuang di sini
Aku nyalakan lilin malam untukmu
agar semua tampak temaram
bukan kelam ataupun terang
tapi tetap temaram
Apakah sajak temaram ini juga berkisah tentang kupu-kupu
atau takdir?
Andai saja takdir adalah sebuah kata
maka ia akan terus aku hapus dan kutulis ulang karenamu
lalu kita bangun takdir kita bersama
Aku mengundang kupu-kupu malam ini
waktu seakan diam sejenak
membiarkan lelaki dan kupu-kupu bersapa
bukan untuk siapa-siapa
hanya untukku dan untuknya
biarkan lelaki dan kupu-kupu bersama
sebelum ia kembali jadi kepompong kering dan ulat daun.
lelaki
kupu-kupu
aku mencintaimu!
Surabaya, Equator 211
14 Agustus 2008


duch..
efek kelamaan di sby,
ky gn y jadinya..
hehehe..
Iya Gung. Menghindar sejenak dari realita. Di sini malah menemukan nuansa yang juga hidup dan penuh warna. Puisi ini adalah esensi dari obrolanku dengan seorang kawan di satu meja selama hampir 2 jam.
Sutarse..oh..Sutarmi..akhirnya engkau posting juga puisimu yang indah ini. Keren ya.
Iya Lan. Puisi ini diinspirasi oleh obrolanku dengan seorang kawan waktu di Surabaya kemarin. Dia memberi banyak hal baru. Mungkin karena obrolannya mengalir ya Lan. Yup, terima kasih, selamat menikmati puisi-puisi selanjutnya. Tapi cukup Mbak Vera saja yang memanggilku Sutarmi hahaha….
Keren banget kak. Bukan sastrawan si, jadi komen nya standar.hehe. Tapi dari kacamata awam aja liatnya udah keliatan sisi romantisme si penulis. cuman kalimat terakhir yang ‘aku mencintaimu” tampil begitu lugas. Jadi menurut saya (menurut saya lho ya) agak mengurangi keindahan kata yang sebelumnya tersusun dalam barisan kalimat metafora yang saya harus membacanya berulang-ulang untuk dapat memahami maknanya.
Di beberapa baris awal saya melihat ada “pemujaan” disana. Apa ya kata yang tepat? Sementara beberapa kalimat terakhir seperti ada “pengharapan” akan sesuatu.
Btw, kenapa menyalakan lilin untuk membuat “temaram” kak? kesannya agak sedih, muram dan kekecewaan. Maaf ya kak, kalo interpretasinya beda ama maksud kakak. Tapi konon, itulah kehebatan puisi karena tiap orang yang membaca bisa menginterpretasikan berbeda. hehhe. tapi jujur, saya masih abstrak. Saya menangkap beberapa maksud dari puisi ini tapi belum mampu mengerti keseluruhan maknanya secara utuh
Analisa yang bagus Vir, sepertinya kamu harus mencoba menulis puisi. Kadang puisi memang selayak bunglon, bisa menampilkan makna yang berbeda setiap pembacaan. Silahkan diselami. Kenapa harus lilin? karena mencintai tanpa harus memiliki itu seperti lilin, kita tidak benar-benar musnah, tapi mencair secair air yang mengalir ke hilir!
kak tzu… kata-kata terakhirnya tu lo… duh sweet banget.
em… mungkin bener, ketika kita mencintai seseorang, jangan pernah menunda untuk mengatakan “Cinta” karna kita tak pernah tau, sampai kapan sang kala memberi kita untuk mencintainya…
-wangi geg-