Laki-laki itu melintas diantara kerumunan. Dia tersenyum, aku mengenal senyum itu, juga busana yang dikenakannya. Ia menyelinap diantara pikiran, singgah pada ragu, namun muncul di keheningan. Setiap aku sadar, dan melihat jembatan itu, yang tersisa hanya wajah-wajah asing yang riang. Mereka semua menghiasi keningnya dengan butir beras, yang wanita semakin anggun dengan kebaya dan selendang yang melingkari pinggang. Lelaki-lelaki itu semakin gagah dengan safari dan destar yang melingkari kepala. Tapi, laki-laki itu melintas sangat cepat. Aku tak sanggup membaca geraknya, lalu ia menghilang sesaat setelah melambaikan tangannya, entah untukku atau untuk orang lain. Bungkusan kecil berwarna merah di tangan kanannya, aku juga mengenalnya. Oleh-oleh masa kecil yang selalu diberikan ayahku saat aku menangis. Rasanya sangat lembut dan manis. Cukup sepotong kecil, letakkan di ujung lidah, maka ia akan mencair menjadi obat yang ampuh untuk tangisku. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Angin sangat peka, dia berhembus lembut, membawa sisa kabut untuk mengendap dipermukaan kulit. Udara menjadi semakin dingin. Apakah kabut ini juga ingin mengatakan sesuatu? Ia membelai kulitku dengan lembut. Selembut angin dan senyum ayahku. Laki-laki kabut, aku ingin menjumpaimu. Meminta potongan gula merah yang ada di tanganmu. Obati hatiku yang luka!
***
Tuhan, di kakimu aku bersimpuh, memohon ampun atas segala dosa. Inikah kebesaran-Mu, sebuah Pura di Bukit Batur. Pelan-pelan, damai menyesak di dada. Apakah kabut sore ini juga menggandeng-Mu? Pintu masuk itu sesak. Laki-laki itu juga ikut menyelinap, seperti bayang-bayang senja, dia menyusup diantara kerumunan orang. Tepat di anak tangga terakhir, ia menoleh dan melambaikan tangannya sambil tersenyum riang. Sepertinya dia sedang mengatakan “Aku menunggumu di Pelataran Pura” Aku ingin bergegas, berharap bisa melihatnya dari dekat. Dia menghilang tepat ketika aku mengedipkan mata. Laki-laki kabut.
Inikah yang disebut ziarah batin? Setiap langkah terasa makin berat. Anak tangga itu tidak saja jalan menuju Tuhan, tapi juga cermin dosa yang terus menumpuk. Bisakah kita melihat dosa dari jarak dekat? Apakah ia berbentuk, atau hanya kuasa gaib yang membelenggu jiwa-jiwa yang lelah?
Aku telah menghadap ke arah Gunung. Lambang kesucian bagi masyarakat Bali. Seperti musium roh yang tenang, berbagai simbol terpasang tanpa bisa kukenali maknanya. Hatiku bergetar ketika genta berdenting, ketika doa dan mantra-mantra gaib dilagukan. Aku cakupkan tangan tepat di depan ubun-ubun, merenung tentang masa lalu, penjelmaan, lalu tentang kekinian. Siapakah aku di mata-Mu? Bagaimanakah harus kumulai percakapan sore ini? Aku ingin menyapa-Mu dengan sederhana, tidakkah Kau merasa lelah dengan ulahku? Aku ingin menyapa-Mu dengan sederhana, lalu mengatakan bahwa aku sedang berduka.
“Duka hanya sebagian dari mosaik hidup. Kapan kita tahu kalau kita berduka atau bersuka? Siapakah yang menamai mereka, bukankah mereka selalu satu. Jangan kau buat semuanya menjadi rumit. Lahir, hidup, lalu mati. Inilah siklus hidup yang harus kita lalui. Entah apa yang akan terjadi setelah itu, tidak usah kau pikirkan terlalu resah. Masa lalu adalah kekinian, masa kini adalah masa datang. Semuanya terangkai dan tidak terputus. Aku juga ingin menyapamu dengan sederhana, seperti seorang ayah pada anaknya”
Aku membuka mataku perlahan, pandanganku tertuju pada bangunan megah di tengah-tengah pura. Seorang dengan pakaian serba putih tengah mengusung air suci. Air yang membawa damai bagi setiap jiwa yang haus. Sirami aku dengan kasih-Mu, obati hatiku yang luka! Dari balik pintu itu, samar-samar laki-laki kabut duduk bersila. Matanya menatap sesuatu, lalu dia tersenyum kearahku. Air dingin menyentuh kulitku, dia menghilang diantara kepulan asap atau kabut! Lalu kuambil beberapa butir beras, kuletakkan dengan hati-hati di kening, sambil aku berucap ”Tuhan, berikan aku pikiran yang jernih, sejernih air yang baru saja kuminum” Aku sebarkan seluruh pandang ke segala arah, mencoba menemukan laki-laki kabut. Sia-sia, hanya ada sisa angin yang menghembus, suara orang diburu waktu, dan aku yang menggigil.
Aku menyusuri ulang perjalanan pulang, arahnya berlawanan. Jika sebelumnya aku menghadap ke timur, sekarang aku tengah menghadap ke barat. ”Menjauh menuju riuh” pikirku. Orang-orang berebut ruang di pintu. Aku diam membiarkan pintu lebih lengang. Aku terus mencari bayang-bayang itu, aku ingin melihatnya dari dekat. Orang-orang telah menghambur ke luar, aku menginjak tangga satu demi satu, menuju riuh jalan. Sekali lagi, aku lemparkan pandangan ke arah bangunan megah itu, laki-laki kabut melambaikan tangannya. Aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Aku ingin menyapamu dengan sangat sederhana, seperti salam seorang anak kepada ayahnya.
Batur, 2008


Hal : Nominasi e-Learning Award 2008
Kepada Yth:
pengelola http://nyomansutarsa.wordpress.com
Dengan Hormat.
Berdasarkan hasil review kami terhadap berbagai web dan blog yang ada di Indonesia, kami beritahukan bahwa situs http://nyomansutarsa.wordpress.com masuk dalam nominasi e-Learning Award 2008 yang diselenggarakan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan, Departemen Pendidikan Nasional (Pustekkom Depdiknas).
Untuk keperluan penilaian lebih lanjut yang akan dilakukan oleh Dewan Juri, mohon kiranya anda melengkapi formulir pendaftaran yang dapat didownload di http://www.e-dukasi.net/elearningaward. Batas pengembalian formulir pendaftaran 31 Agustus 2008.
Demikian surat ini kami buat, semoga anda dapat berpartisipasi. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami
Panitia e-Learning Award 2008
Kontak Person:
Hendro Gunarto (021-99174560 atau 08128155562)
Adi Gama (021-92233166 atau 0818 686220)
Wah senang sekali……
Formulirnya akan saya lengkapi secepatnya.
wah…selamat ya pak… Sejak membaca puisimu,aku jadi kecanduan ama blogmu:)
Terima kasih ya Lan, aku juga tidak pernah mengira akan dinilai segala. Aku hanya menggoreskan hal yang menurutku berkesan. Tetap nikmati karya-karyaku ya! Oya, aku juga sedang menggarap tulisan dengan seorang kawan di GN tentang homoseksualitas. Masih dalam tahap inventaris bahan-bahan.
sukses y