Jika saat ini sampai, aku tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa.
Kapankah kali terakhir kita menyusuri Kuta di senja hari,
sama-sama memuji buih yang lembut.
Bergulungan di pasir, lalu kita kehilangan butir senja yang redup,
yang tersisa adalah kerlip bintang, debur ombak, dan dirimu disampingku.
Dulu aku pernah membayangkan luluh di peluhmu seperti malam tadi,
tidak ada kata ataupun kalimat yang terucap,
mata punya bahasa,
lidah juga punya kata,
dan rasa memang tak perlu dikata.
-Kuta, 29 Agustus 2008-


em..
enak nich,
kyknya dpt kluar breng…
jd ngiri nich…
hikz…
Sesungguhnya aku sedang merasakan lega, karena telah menemukan makna semuanya Gung.
mentang2 dubah alias duta bahasa, bahsanya euy gawat abissss
heheh tapi bener juga nie kata agunk, enak nie…
ce ile…
enak y klo ud dpt smua maknanya..
hiks..hiks….
jd sedih klo d bndingin….
Selamat Datang ya Elf! Bagian mana yang gawat Elf ? Aku hanya membiarkan para pembaca memberi tafsirnya sendiri-sendiri. Iya Elf, renungan panjang. Thanks sudah mendengarkan aku berkeluh….
Bener Gung, setiap kejadian, entah senang ataupun sedih, selalu menyimpan makna di dalamnya. Kita cenderung malas berkontemplasi, semuanya berlalu begitu saja. Selamat berpetualang ya Gung!
Buat Hellda, sayangnya aku tidak bisa menangkap maksud senyum yang kau kirimkan. Memang benar senyum mengundang sejuta tanya……
Wanita, Cinta dan Kuta, tiga “ta” yang bisa membuat setiap moment menjadi puisi bagi sang pujangga
Wanita, Cinta, dan Harta…. katanya tiga racun dunia! Berapa banyak orang sesungguhnya yang setuju Ded, asal semuanya berada pada porsinya masing-masing, yang tercipta adalah harmoni. Tapi kalau Kuta, memang tidak lagi seteduh dulu, sekarang sudah terlalu riuh, tidak ada ruang untuk berkeluh.
wanita!!