“Aku tuliskan takdir ini untukmu, sebagai perlawanan atas kekuasaan waktu, yang selalu membuat manusia tidak berdaya. Kerutan diantara senyum liat, rambut-rambut putih, atau tulang kita yang semakin keropos. Jika Tuhan tidak bisa menciptakan waktu bagi Sang Waktu, mari kita gariskan nasibnya pada tangan-tangan ajaib kita”
Ayahku adalah seorang pekerja keras, sangat keras. Ia adalah seorang buruh di pabrik minyak kelapa, sekaligus seorang petani. Ia terus mengayuh hidup dengan sederhana. Apa yang kita bayangkan dari kehidupan seorang buruh atau petani: miskin, terpuruk, kelaparan, terhina! Tapi tidak dengannya. Setetes keringatnya kemudian menjelma nasi untukku dan kedua kakakku. Aku bayangkan lagi sosoknya yang sudah almarhum 13 September setahun yang lalu. Raut muka yang tegas, tapi tidak menyeramkan. Kulit yang kasar dan berwarna legam, sekeras hati dan semangatnya untuk menghidupi keluarga. Ayahku telah berdamai dengan waktu. Ia pernah memperbudak dirinya untuk waktu, ia menggadaikan dirinya. Waktu tidak pernah mengasihani ayahku, ia terus memperbudak ayahku dengan kejam. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun: ayahku tergadai. Mengapa aku baru memahami makna perjuangan ayahku sekarang? Aku bayangkan bahwa ia memiliki mimpi: sebuah angan tentang masa depan yang gemilang, sekolah yang tinggi, menjadi orang yang pintar, lalu kembali menggadaikan diri pada waktu. Semuanya untuk mengisi kantong dengan uang. Uang memang telah menjadi sendi kehidupan manusia, tapi ia tidak pernah memberi jiwa ataupun bahagia yang kekal. Paradigma uang akan membawa kebahagiaan telah menjebak pemikiran ayahku. Aku kehilangan waktu bersamanya. Seumur hidup mungkin ayahku tidak pernah benar-benar merdeka, ia tetap terjajah, terjajah oleh waktu, uang, dan kapitalisme. Tapi ia telah membuka pikiranku untuk menjadi manusia yang benar-benar merdeka: manusia yang bisa berfikir melampaui waktu!
Pikiran tentang ayahku tiba-tiba menyeruak setelah aku membaca cerpen Kerja, Nasi, dan Kebebasan. Satu lingkaran kehidupan yang senantiasa dialami oleh masyarakat kelas marginal. Ini seperti pertarungan antara roda pedati dan jarum jam. Tidak sekedar menunggu siapa yang kalah atau menang, tetapi siapa yang akan terbunuh dan siapa yang akan jadi pembunuh. Detik dan roda selalu saja berebut ruang. Detik berputar, roda bergulir, detik berhenti dan rodapun diam seketika. Detik berdenting, roda semakin kencang bergulir dan terus bergulir sampai akhirnya hancur membentur dinding waktu. Siapa yang sesungguhnya terluka?
Aku juga pernah tergadai oleh waktu di usia 4 tahun. Saat aku kehilangan sebelah kakiku, aku menghabiskan jam demi jam di tempat rehabilitasi. Jika dulu aku sangat gemilang karena di ujung sana ada seorang dokter yang sedang menunggu dengan sebuah permen, hari ini pun aku tetap tersenyum karena aku telah mendapatkan kembali kakiku. Waktu yang telah mengembalikan sebelah kakiku. Mengapa aku bisa menang melawan waktu saat usiaku 4 tahun? Karena saat itu ibuku telah berfikir melampaui waktu. Siapakah yang bahagia sesungguhnya? Ibuku telah meminta kembali kebebasanku pada waktu dan aku tidak lagi dianggap sebagai seorang cacat. Kemenangan besar atas waktu. Mari kita rayakan kemenangan ini! Jika ayahku menggadaikan dirinya demi uang, untuk hidup, dan kemenanganku, ibuku juga menggadaikan dirinya untuk kemenanganku. Ternyata mereka tidak sepenuhnya merdeka. Ini memaksaku berfikir dan terus merenung: untuk siapa sebenarnya kita hidup dan siapakah yang sesungguhnya berhak atas hidup kita? Apakah waktu, masa lalu, kekinian, ataukah kebebasan?
Aku merasakan sendiri bagaimana kapitalisme merebut kebebasan keluargaku. Kapitalisme telah menancap kuat di antara tatanan masyarakat kita. Kapitalisme memaksa semua orang untuk bekerja. Kalau keluargaku ternyata terjajah oleh waktu, maka semua keluarga-keluarga lainnya juga terjajah oleh kapitalisme. Pikiran kita telah dijajah kapitalisme. Apakah kita benar-benar merdeka? Kapitalisme dalam bahasanya yang halus, telah duduk sebagai dewan penasehat negara. Ia tumbuh dengan subur lalu mengakar menjadi sebentuk budaya baru. Keluarga memang pemeran sebuah budaya, namun keluarga juga banyak diatur oleh kepentingan penguasa, sehingga budaya yang berkembang adalah kepentingan para penguasa. Lalu apakah yang sesungguhnya disebut budaya? Kalau kepentingan (atau budaya) dalam keluarga diatur oleh penguasa (negara), maka negara juga diatur oleh kapitalisme. Beranikah kita mengatakan bahwa kita telah merdeka sepenuhnya?
Ibu, maafkan aku jika aku menuliskan takdir ini
aku hanya ingin jujur seperti kunang-kunang temaram
jika kemudian aku menjelma jadi sebutir pasir
dan hinggap di matamu sehingga air mata berderai
aku juga minta maaf,
siapakah sesungguhnya yang terluka ?
Ini seperti sebuah perjalanan pulang, mengurai kembali sudut-sudut kota yang pernah kita tinggalkan. Masihkah kita ingat nama jalan itu, tempat semua cerita kita endapkan? Ataukah ia telah menjadi sebuah jalan tanpa nama, yang diisi oleh sekawanan ibu-ibu paruh baya, menembang khusuk atas cerita kehilangan. Kita memang telah kehilangan nama, kehilangan identitas, dan mungkin kita akan kehilangan kebebasan. Kita sesungguhnya tidak betul-betul merdeka dan bebas, kita dijajah oleh kepentingan penguasa. Penguasa sendiri terjerat oleh kapitalisme.
Seekor kupu-kupu warna warni hinggap di sepucuk kembang sepatu, menghirup wangi bunga, esensi dari hidup. Mari belajar pada perangai kupu-kupu. Metamorfosis sempurna dari seekor ulat daun, menghidupi dirinya dengan memakan pucuk daun-daun muda. Sangat egois, bertahan hidup sendiri. Lalu ia menjadi kepompong, melakukan kontemplasi diri yang panjang. Mungkin ia berfikir, apakah aku akan terus hidup sebagai pemakan daun? Lalu ia lahir kembali sebagai mahluk bersayap yang indah. Menghirup wangi dan sari bunga tanpa merusak keindahan Sang Bunga. Bisakah manusia hidup harmonis seperti bunga dan kupu-kupu?
Dimana akan kita semaikan wangi tubuh jika hidung kita telah sesak dengan aroma kekuasaan. Masihkah tersisa ruang bagi hati kita yang jernih ini? Aku merindukan bening mata anak di lampu merah, sorot dan pandangan teduh mengiba pada nasib. Matanya tengah menggulirkan satu keluh: inikah budaya yang sedang berkembang, bertahan hidup untuk mempertahankan kekuasaan. Anak bermata bening itu memang belum mengerti hal serumit ini. Bukankah kita seharusnya seperti anak-anak, jujur terhadap diri sendiri? Atau memang kita harus mengalami metamorfosa? Bisakah kita menjadi sederhana dan jernih seperti anak-anak, menjadi penguasa atas waktu, walau ia tidak pernah berfikir melampaui waktu. Kita memang tidak bisa menjadi anak-anak, tapi kita bisa berfikir melampaui waktu!
Ibu, maafkan aku jika aku menuliskan takdir ini
aku hanya ingin jujur seperti anak-anak
jika kemudian aku menjelma jadi sebutir pasir
dan hinggap di matamu sehingga air mata berderai
aku juga minta maaf,
siapakah sesungguhnya yang terluka ?

