Wajahnya setengah tertunduk, matanya mengiba meminta belas kasihan pada kalian semua. Semakin lama mata itu semakin redup, wajahnya semakin tertunduk, menyesakkan bentuknya ke dalam ruang batin yang rapuh. Siapakah yang hilang rasa, aku atau kalian? Wajah itu seketika menengadah, matanya nanar tajam, serupa belati purba yang haus darah. Semangatnya menggebu, semangat untuk berjuang, semangat untuk hidup, dan mencoba berkawan dengan virus-virus yang lucu ini.
Bolehkah aku meminta segelas harapan pada bulan malam? Manusia sudah terlampau miskin dengan kasih sayang. Aku tidak lagi mengenali rupa-rupa kerabat. Mereka semua menghilang, sesaat setelah aku keluar dari rumah sakit. Angin terlalu kencang meniup isu, cerita tentang hasil tes VCT yang aku jalani seketika menjadi jajanan kopi susu di warung-warung. Bahan obrolan sore hari ibu-ibu PKK, bahkan contoh terkutuk yang selalu didengungkan para pendakwah. Aku tidak sedang mencari pembenaran atas penyakitku, aku hanya ingin mereka mengerti kalau aku juga seorang manusia yang lemah, manusia yang lahir dari dosa dan rasa haus: haus kasih, haus teman, haus penghargaan, haus cinta, haus persamaan!
”Namaku Surya. Aku lahir, tumbuh, dan besar di Denpasar, kota budaya yang sedang merangkak menuju metropolis. Umurku 14 tahun, siswa kelas 2 sekolah menengah pertama. Jiwaku berasal dari kota purba, mewarisi hedonisme primitif manusia-manusia purba. Sebelum aku diciptakan dari kumpulan sinar, dunia ini katanya tengah dilanda kekeringan, hingga aku dilahirkan dalam rasa haus. Aku tumbuh ditengah-tengah ruang tanya, yang tidak pernah bertemu jawab. Orang tuaku sangat sibuk, sibuk mengurusi perut dan adat. Aku lalu bersekutu dengan waktu, mencari jawab dengan caraku sendiri. Saat malam datang, ia menyapa lewat mimpi. Aku memimpikan ranjang penuh mawar, harum dupa yang memecah ubun-ubun, desah nafas yang saling berkejaran di balik kabut, dan aku yang berbaring di sampingnya: burung liar yang memberiku nikmat semalam. Tidak pernah aku bayangkan kalau aku akan diasingkan: oleh waktu ataupun kerabat. Burung liar yang manis, aku tidak pernah menyalahkanmu, kau yang memberiku nikmat, kau juga yang mewariskan HIV di darahku”.
Begitulah caraku memberi testimoni di hadapan remaja-remaja yang sedang berburu informasi tentang HIV dan Aids. Bukan sekedar kata, melainkan emosi dan harapan yang aku bagikan pada mereka. Bisakah kita renungkan sejenak : aku terinfeksi HIV saat aku berusia 14 tahun, semuanya karena ketidaktahuan, karena larangan yang tidak beralasan, keinginan berekspresi, dan krisis identitas. Lalu aku divonis HIV+ saat aku berumur 18 tahun. Aku tersungkur dalam waktu lama, lalu bangkit kembali. Saat ini usiaku ternyata sudah 22 tahun. Terlambatkah menurutmu?
Remaja memang masa yang paling sulit. Pertumbuhan fisik yang cepat disertai gejolak hormonal sudah merupakan masalah. Jika ini diperberat dengan larangan yang tidak beralasan, mitos-mitos seputar seksualitas, dan upaya edukasi yang terbatas, maka akan semakin banyak remaja yang tidak cerdas dan bijak dalam membuat keputusan. Hasilnya adalah peningkatan permasalahan remaja, kejadian aborsi meningkat tajam, angka penularan HIV semakin tinggi, lalu kematian potensi generasi muda akan mengikuti. Bagaimana nasib bangsa jika kondisi ini dibiarkan berlanjut?
Permasalahannya masih berpusat pada perbedaan sudut pandang. Pengalaman yang aku alami, akhirnya membuatku berpikir bahwa lemahnya akses informasi adalah mata rantai yang harus segera diputus. Sebaliknya, beberapa kalangan tetap berpendapat bahwa akses terhadap informasi adalah mata rantai baru yang tidak boleh digulirkan. Dari mana akan kita awali rangkaian langkah taktis jika kita masih berdebat soal sumber masalah? Informasi hampir menjadi kebutuhan semua orang, termasuk informasi seputar seksualitas. Justru informasi yang keliru, yang dikaburkan antara mitos dan fakta, yang harus kita perangi bersama. Satu contoh kecil misalnya, orang-orang yang menderita HIV adalah sekelompok orang yang memiliki perilaku buruk, orang-orang yang dikutuk oleh Agama, orang yang tidak bermoral, dan serentet label lain yang menyesakkan dada. Bagaimana dengan bayi-bayi baru lahir yang mewarisi HIV dari darah ibunya? Bagaimana dengan dokter-dokter dan perawat kesehatan yang tertular saat merawat pasiennya? Masihkan kita berpandangan bahwa penderita HIV adalah golongan orang yang amoral? Penyebaran informasi yang benar mengenai cara penularan HIV telah mengikis pandangan tersebut.
Butiran air mata bergulir ketika aku mendapat stigma di masyarakat. Aku memang tertular karena aku berhubungan seksual dengan pekerja seks yang kebetulan terinfeksi HIV. Kesadaranku akan pentingnya penggunaan kondom, perilaku seksual yang berisiko, dan bahaya HIV masih minim. Ini terjadi karena aku tidak memiliki akses terhadap sumber informasi yang benar. Sungguh aku sangat merasa iri dan cemburu, dengan akses yang mereka miliki. Pertanyaannya, mengapa masih banyak juga remaja kita yang terinfeksi HIV, banyak yang melakukan aborsi, mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, sampai pada percobaan bunuh diri. Apa sesungguhnya makna di balik semua ini? Apakah sekedar penyuluhan saja masih belum memadai, apakah informasi yang kita sampaikan masih dikalahkan oleh hantaman mitos, atau memang remaja memerlukan dukungan layanan yang komprehensif?
Aku hanya membayangkan sama seperti yang aku alami. Andai saja dua tahun yang lalu aku tidak bertemu dengan kelompok dampingan sebaya, mungkin saat ini aku masih menyendiri sambil terus merenungi diri, tanpa berbuat apapun untuk kemajuan. Mereka membuatku lahir kembali, membuatku sadar bahwa HIV bukanlah akhir sebuah perjuangan, HIV bukanlah akhir dari hidup. Kelompok dampingan seperti inilah yang dibutuhkan oleh remaja-remaja kita. Disamping menyediakan informasi yang benar dan konsisten, kelompok/lembaga ini juga berperan sebagai motor penyemangat untuk tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan bertanggung jawab, serta memotivasi mereka untuk berbuat sesuatu bagi kemajuan semua remaja.
Upaya ini adalah langkah yang mengawali pemanusiaan remaja, memperlakukan remaja sebagai individu yang utuh, dengan segala hak dan kewajiban yang melekat padanya. Pelayanan yang integratif dan terjangkau adalah upaya pembentukan remaja yang cerdas. Pertanyaannya kemudian, siapa yang akan menyediakan layanan terpadu tersebut? Tidak mudah membangun layanan terpadu dalam satu atap. Tentunya banyak pihak yang harus berperan serta dalam rangka mewujudkannya. Layanan remaja terpadu bisa jadi merupakan pintu masuk bagi semua remaja, entah untuk bersosialisasi, mencari dukungan, saling memotivasi, atau menemukan identitas yang sesungguhnya.
Aku tidak rela jika satu demi satu remaja yang menderita HIV+ menghilang, sambil duduk diam menyesali diri. Layanan inilah yang sangat kita perlukan. Dorongan atau kelapangan hati adalah motor semangat bagi mereka. Aku memiliki keyakinan penuh bahwa setiap orang memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Remaja juga bagian dari dunia. Mereka mewarisi semangat bumi yang agung. Bisakah kita membangkitkan atau menyalakan kembali semangat tersebut? Tanggung jawab ada di pundak kita, jika memang kita perduli. Kita tidak perlu menjadi Tuhan atau malaikat untuk bisa saling bantu, kita hanya perlu ketulusan hati dan mengerti cara berempati. Sudah siapkah kita berevolusi, jadi manusia yang tulus dan penuh empati?
Kini wajahku tidak lagi tertunduk, tapi menatap ke depan dengan penuh gairah. Bahwa hidup adalah perjuangan, bahwa hidup adalah kesempatan. Jika satu saat nanti, maut memintaku menjadi temannya, dengan senyum riang akan aku ulurkan tanganku, lalu jiwaku akan kubiarkan dibawa terbang: jauh entah akan berujung dimana………….


cecece
wowwwwwwwwwww
kerennn kak tZu….
aku suka penutupnya
tzu mang jagonya membuat ilustrasi yang memikat dan penuh makna, mak nyozzzzzzz
jeg kueren….
bagus kak, tapi belum selesai aku baca, soalnya ada jeunk arindi disini..
jadi ku pending bacanya, komennya nyusul ya,, he…..
iya kak….pembuka dan penutupnya touch banged.
serasa jamuan mewah yang dari awal sudah dimanjakan dengan makanan pembuka yang unik trus diakhiri dengan penutup yg mengesankan.
bukan berarti isinya gak menarik lho….
kadang-kadang isi yang nikmat tidak dibungkus dengan tampilan yang elegan
tapi yang ini…hmmmmm…yummy
lusr dalamnya berasa
Wah lama ga update lagi su. sibuk banget ya…
singkat dan sangat menyentuh..
membuka cakrawala : )