Angin yang bergulung menerbangkanku ke pangkuanmu. Butir-butir pasir yang halus adalah serpihan hatiku. Maafkan jika aku hinggap di matamu, lalu kau menangis. Aku hanya butir pasir, sama seperti debu atau kerikil hitam. Siapakah yang terluka sesungguhnya? Aku tidak sedang bercerita pada malam ataupun mengeluh pada Tuhan, tapi aku sedang mencoba berkompromi dengan takdirku, menjadi hujan, menjadi air, yang terus mengalir menuju hilir: Kembali ke Asal!
Satu sore di sudut kota batu, aku bercengkrama dengan burung-burung liar. Mereka sedang ribut mengeluhkan kebebasannya yang mulai terancam. “Banyak pohon-pohon rindang telah ditebang, peremajaan tanaman katanya. Padahal di dahan itu pernah tumbuh cinta pertamaku pada kekasihku, yang sekarang hanya tinggal cerita, ia telah ditembak oleh sekawanan orang berseragam lengkap”. Sungguh burung liar yang malang pikirku. Cepat-cepat ia menyela “kami tidaklah berbeda jauh dengan kaummu, kalianpun sedang berjuang untuk mendapatkan kebebasan bukan? Mari kita bernegosiasi, kalian bantu aku mendapatkan rumahku, maka akan aku jadikan kau sebagai air yang mengalir ke hilir. Menjadi butir air, bulir air, yang mengalir, yang terus mengalir, menuju hilir”.
Apakah ini yang disebut percakapan hati. Saat aku melihat jauh ke dalam matamu, aku dapati diriku sedang bercerita dengan burung. Mengapa tidak pada mata orang lain, mengapa hanya pada matamu aku bisa dengan jelas mendengarnya. Semacam keluhan yang enggan aku sampaikan pada siapapun, tidak juga pada angin. Aku telah jatuh cinta pada matamu, pada senyummu, pada kisahmu. Bolehkah aku tuangkan rasa sesak ini ke dalam gelas, lalu kita benturkan mereka sampai nyaring, sampai tanya segera bertemu jawab. Hari ini aku merasa sangat merdeka. Aku telah memiliki diriku sepenuhnya. Lidahku tidak lagi untukmu. Aku telah menang dalam pertarungan ini.

