Aku tuliskan takdir ini lewat luka dan kecewa. Bukan untuk Tuhan yang tidak bisa adil, atau Kau yang tidak pernah setia, tapi pada waktu, yang selalu membuatku tidak berdaya.
Dering serangga dini hari, seperti suara masa silam yang sunyi. Aku bukan malam yang takut akan terang, tapi hanya langit yang ingin berlindung dari matahari. Sengatannya terlalu menyakitkan. Sama sepertimu yang selalu bagai kupu-kupu. Terlalu indah, tapi tak pernah sanggup kujangkau. Angin menghempas kepompong kering, lalu hinggap di sarang semut merah. Metamorfosis! Aku tidak lagi sama seperti aku yang dulu. Aku kehilangan sayap sebelum aku sempat jadi kupu-kupu. Ketika aku berharap kau akan berbagi sayap warna-warni bersamaku, seketika kau letakkan sayapmu di sana: brengsek! Sungguh dunia ini begitu brengsek. Kita, kau dan aku sudah terlalu lama terjebak di dalamnya!
Namaku Istri. Aku berasal dari jaman batu. Aku terlahir dari liang karang yang karam. Bukan karena buih aku berwujud, tapi kau yang memberiku roh. Biarkan pasir menuliskan sendiri jejak waktu, karena sebentar lagi ombak akan menghapusnya. Akulah butir pasir, mengalir bersama arus. Angin bergulungan, buih memuncah di kulit. Aku tumbuh di garis pantai, di antara gubug-gubug petani rumput laut. Benarkah ayahku telah dibawa Dewi Segara di malam gelap saat usia kandungan ibu 7 bulan? Atau ini hanya cerita seadanya untuk mengisi ruang tanya yang mulai tumbuh di anganku? Entahlah, ibu selalu berkata hal yang sama setiap saat.
Ibuku, seorang perempuan kuat, pekerja keras, ulet, tidak pernah menyerah. Setidaknya itulah yang bisa aku gambarkan tentangnya. Dia lembut, penyayang, penuh perhatian. Ini pula sisi lain dari ibu. Keduanya membaur tidak berbatas. Perempuan adalah mahluk paling ajaib yang pernah aku kenal. Dari dini hari sampai hari larut, ibuku selalu bergerak: dinamis. Memasak, mencuci, mencari uang, semua dikerjakan sendiri. Aku lebih senang bermain pasir di pinggir pantai, bersama buih dan merpati senja. Perempuan-perempuan senja, memang tampak jauh lebih anggun dari sisa waktu lainnya. Menjinjing Canang pada lengan kiri, selendang yang melingkari pinggang, harum dupa yang menusuk sampai di dasar batin, membuatku merasa damai. Sama seperti doa ibuku sepanjang malam, di pingir pantai: damailah Kau di sana kekasihku. Ombak hanya gumpalan air yang tak tahu arah. Jemari kakinya yang legam, diwarnai buih putih. Lalu jejaknya tertinggal kasar di pasir. Perlahan dihempas ombak dan hilang.
Apakah aku akan menjadi buih atau ombak sore ini? Aku mencintai rambut ibuku. Aromanya yang kasar bercampur asin membuatku linglung. Adakah damai ini karena aku melihat perempuan separuh baya, atau memang senja yang sendu? Ayahku telah menjadi satu dengan ombak. Aku mengenalinya dari aroma laut dan doa ibuku. Sisanya juga mengendap di pasir, dan aku sangat menyukai pasir ini.
***
Malam ini terasa sungguh berbeda. Ada keraguan yang selalu menyembul diantara bayang lampu yang remang. Angin tidaklah kencang, bulan tetap tampak sepertiga. Bintang masih di sana, di antara langit yang lapang. Perasaan ini menjadi semakin tidak menentu, biasanya tidurku tidak pernah terganggu seperti ini. Mungkin aku kebanyakan tidur hari ini. Perempuan hamil biasanya memiliki kepekaan yang lebih. Anakku juga tidak pernah diam dari tadi sore. Kakinya selalu menendang rahimku. Ada apa dengannya hari ini, apakah ada sesuatu yang akan terjadi. Aku semakin resah. Antara bimbang dan yakin, aku melangkah ke pinggir pantai. Menatap jauh ke depan, menunggu rombongan itu kembali. Biasanya mereka telah terlihat di tengah-tengah sana, diayun-ayun ombak. Lampu-lampu berdatangan, tampak seperti kunang-kunang malam yang indah. Katanya kunang-kunang adalah lambang bencana. Tapi mengapa pagi ini justru aku terus berpikir tentang kunang-kunang. Temaram, lampu itu tampak temaram. Sambil menunggu cahaya matahari yang sesungguhnya. Perahu itu menepi satu per satu. Aku menunggunya, semua telah menepi, tapi bukan dia. ”Di tengah sana, masih ada satu perahu lagi” katanya. Pasti itu perahu suamiku. Perahu itu menepi, tidak ada ikan. Bli Nyoman basah kuyub, tapi Made Lanang, suamiku tidak disana. ”Perahu ini terjungkir ombak. Semuanya tumpah. Made tidak lagi muncul di air.” Mungkin hanya mimpi. Hanya mimpi, aku menegaskan.
Alunan angklung mengiring abu suamiku melaut. Alunannya lirih, selirih selonding tua, serupa hatiku yang remuk. Aku titipkan bunga Jepun merah muda bersama roh. Akan aku ziarahi jiwamu setiap senja. Inilah lambang kesetiaan perempuan Bali. Anak kita, akan menjadi seorang yang tangguh, setangguh dirimu. Tunggu di sana, akan kukumpulkan uang dari keringatku, aku akan menjemputmu pulang jadi Sang Hyang Pittara, lalu Kau akan kupuja seiring usia. Ini adalah janjiku kepadamu: aku ikhlas!
***
Jangan panggil aku Luh Istri, jika hanya karena matahari aku tak sanggup melaut. Aku memang dibesarkan di pinggiran pantai. Supaya dekat dengan Ayah, kata ibuku. Aku tidak pernah mengenali wajah ayahku. Semua gambarnya dulu ikut dibakar saat pengabenan. Dari kecil sampai usiaku 15 tahun, aku masih meyakini bahwa ayahku ada di tengah laut. Tabungan ibu belum juga cukup untuk membuat upacara Memukur, menjemput ayah pulang ke rumah. Aku mengenal ayahku dari aroma pasir ini. Keras bercampur lembut. Ayahku, petani rumput laut sekaligus nelayan. Menurut cerita masyarakat kampung, ayahku dipinang oleh Dewi Segara, dan membiarkan aku hidup tanpanya. Tapi ibuku, juga adalah ayahku sekaligus. Dia tidak pernah membiarkan aku merasa kesepian, dia selalu berpesan bahwa aku harus tegar, harus kuat, harus tangguh, seperti ayahku.
Aku tidak pernah mengenal dapur. Ibu melarangku memasak. Katanya itu tugas seorang perempuan. Apakah aku bukan perempuan? Aku memiliki sepasang sembulan daging besar di dadaku, rambutku panjang bergelombang, aku mengalami datang bulan, dan aku punya vagina. Apakah aku bukan perempuan?
Malam itu, rongga tanyaku kehilangan ruang. Ia tumpah tepat di bulan purnama. “Me, bukankah Iluh seorang perempuan, Iluh juga ingin bisa mengurusi rumah seperti Meme. Iluh yakin, Ayah pasti senang jika Iluh bisa seperti Meme.”
”Tidak Luh. Kamu tidak pantas mengerjakan itu semua. Itu adalah tugas seorang perempuan seperti Meme. Kamu harus menjadi seorang yang tangguh seperti ayah Luh. Kita tidak boleh mengecewakan Ayah. Sudahlah Luh, ini sudah terlampau malam. Ayah juga pasti ingin istirahat.” Sambil menancapkan sebatang dupa yang harum, kami beranjak meninggalkan bibir pantai yang masih basah. Tanyaku belum usai. Tapi semuanya aku simpan di kepalaku. Aku harus menjadi seorang wanita tangguh seperti keinginan ibu, atau aku harus menjadi laki-laki pasir?
Pagi hari, aku harus ikut menyiangi rumput laut itu. Sesekali, aku mengikuti Pak Nyoman melaut, menjaring ikan. Satu ikan terbang, semakin lama semakin banyak. Inikah yang dikerjakan ayah selama aku masih belum berbentuk? Sangat menyenangkan. Ikan-ikan ditimbang, sekian kilo, sekian receh kukantongi. Inikah rasanya menjadi laki-laki, mencari uang untuk ibu. Jika malam datang, aku ditembangi Putri Bulan. Petuahnya merasuk di raga. Biarkan saja bulan meminang bintang, langit akan tetap cerah di pagi hari.
”Mari merapat Luh. Cakupkan kedua tanganmu di depan ubun-ubun. Ambilkan bunga berwarna putih, ucapkan mantra gaib. Doa kita, kedamaian buat Ayah”
”Pelan-pelan saja, jangan pernah mengejar waktu!”
Ombak tetap saja ombak. Air asin yang kalah oleh angin. Jika bertemu pasir, ia akan menjelma buih. Pelan-pelan aku merasa cemburu. Mengapa ibu lebih mencintai ayah dibandingkan aku. Ibu selalu duduk di pasir setiap sore, bercerita pada angin tentang kerasnya hidup, atau mengeluhkan aku yang tidak bisa kuat seperti ayah. Tapi mengapa aku harus cemburu? Bukankah aku juga mencintai ayah. Aku ingin ibu hanya mencintaiku, bukan orang lain ataupun ayah. Aku mencintaimu Ibu, aku mencintai perempuan!


salam kenal , pak!
terakhir kami di bali, telah berubah sama sekali di bandingkan 15 thn yg lalu. kemacetan lalu lintas yang tak nyaman. suasana hijau yg semakin menipis. dan transportasi umum yg minim.
ketika ibu saya,60 tahunan, ingin berjalan sendirian dari bank danamon di jalan gunung agung sampai toko yadnya di jalan gajah mada.seperti yg beliau lakukan ketika kami masih tinggal di bali.
astaga apa yg terjadi?
dengan HP-nya beliau meminta kami menjemputnya! gara-gara susahnya menyeberang jalan!
para pemakai lalu lintas (mobil dan sepeda motor) sama sekali tak memperdulikan kesopanan (= memberi pejalan kaki haknya untuk ikut menggunakan jalan). kalau ada traffic lights, tapi dibuat sedemikian rupa sehingga si pejalan kaki harus lari terbirit-birit (seperti di perempatan jalan gatot subroto, misalnya).
semoga hal ini bisa diperbaiki. karena jalanan bukan hanya hak pengendara, tapi juga pejalan kali.
mohon diperjuangkan, pak!
terima kasih.