Seperti kelahiran Panchali, malam ini aku dapati diriku sedang duduk dihadapan harian yang sudah terlampau lama tidak aku tulisi. Terlalu banyak kisah yang ingin aku luapkan di halaman-halaman putihnya. Barangkali ada juga ceritamu di dalamnya. Aku tidak akan mengawali halaman baru ini dengan umpatan ataupun pujian, melainkan menuliskan kisah kontemplatif bagi kita semua.
Ada yang istimewa ketika aku melihat bara dupa yang kian redup, selanjutnya debu beterbangan bersama wewangian asap. Aromanya memasuki hidung dan mengendap di dasar memori, sedang debunya lekat di pori. Aku mencoba mengingat kisah Mahabrata bersama bara dupa yang kian redup, mulai kelahiran Panchali dari api pemujaan selama 100 hari, sampai hari kematiannya di pertengahan Himalaya yang agung. Tentu dia bukan berkah yang diharapkan untuk hadir, melainkan dia adalah penyerta kelahiran Dre, kakaknya. Keduanya membawa takdir masing-masing, yang akan menorehkan sejarah panjang di kelana Pandawa. Aku menemukan diriku larut dalam kisah-kisah kelahiran seperti itu, membayangkan kedekatan para dewa dengan manusia. Membayangkan hal yang mustahil tentang kelahiran sepasang saudara dari api, yang konon katanya atas perintah Khrisna. Tentu akhirnya ini menjadi satu cerita yang barangkali tidak mampu diperdebatkan ditatanan harfiah, melainkan harus ditembus lebih dalam, dan diperdebatkan dijajaran esensi. Sama ketika kita mendiskusikan tentang keniscayaan surga dan neraka: bahkan diakhir hidupnya, di pertengahan Himalaya, pertanyaan menarik diajukan oleh Panchali “Apakah surga dan neraka itu benar-benar ada?” Lalu dengan ringan Khrisna menjawab bisa ada, bisa juga tidak. Percakapan ini membuatku merenung, kalau pada epos besar tersebut juga tidak ada kepastian tentang surga dan neraka, adakah hal lain yang juga masih menjadi teka-teki sampai saat ini?
Teka-teki, semua kisah-kisah besar dan sejarah adalah teka-teki. Dituliskan ulang untuk satu kepentingan. Mahabrata ditulis untuk mengingatkan kita bahwa ada roda karma yang akan terus berjalan, bahwa diluar kehidupan ini juga berlangsung kehidupan lain, yang tentu saja saling mengait satu dengan lainnya. Epos ini dengan lugas menyatakan bahwa amarah, nafsu, dan dendam hanya berujung pada duka dan sengsara berkepanjangan. Lalu bagaimana dengan sejarah kelahiranmu? Aku akan mengawali dengan cerita kelahirannku.
Tidak ada yang istimewa. Kata ibuku, aku tercipta karena kegagalan metode kontrasepsi pil, barangkali ibuku lupa meminumnya satu hari, dan karenanya sel telur itu akhirnya dibuahi oleh sel sperma ayahku. Maklum saja, ibuku bukanlah orang yang berpendidikan, tapi dia dan juga ayahku mewarisi begitu banyak hal yang lebih esensial bagi hidup dibanding sekedar kepintaran. Kata ibuku, aku sempat akan digugurkan. Barangkali karena keluargaku miskin, jadi kalau harus menambah satu anak lagi akan menambah kesulitan keluarga. Kedua kakakku sudah memberikan beban yang berat bagi kedua orang tuaku. Keputusan diambil, kehamilan ibuku dilanjutkan. Sambil, bertani di tanah yang bukan miliknya, ayah dan ibuku diam-diam menanamkan harapan supaya aku terlahir dengan banyak keberuntungan. Tepat bersama perayaan keris dan logam, aku dilahirkan di bidan, katanya aku tidak segera menangis. Kalau aku teruskan, aku akan terus membanggakan kedua orang tuaku yang tangguh.
Lalu, bagaimana kelahiran Indonesia? Sudah terlampau lama kita melupakan kelahiran Indonesia. Barangkali kita sudah melebur dengan kekinian, dimana batas antara realita dan imajiner sangat tipis. Aku memikirkan apakah sejarah yang pernah aku pelajari dulu adalah sejarah yang senyatanya? Sejarah yang diceritakan oleh para saksi. Panchali oh Panchali, yang mendapatkan anugrah mata ketiga dari Byasa, mengapa dia tidak pernah mau menceritakan kesedihan Korawa di Kuru Setra? Apakah dalam kisah Mahabrata juga ada kisah-kisah yang dengan sengaja dihilangkan? Tidakkah sejarah yang dulu aku pelajari juga hanya sejarah rekaan, hanya sejarah para penguasa? Apapun itu, sejarah tetaplah sejarah, namun sejarah juga bukan kebenaran absolut yang harus diterima tanpa mengalami proses penyaringan kritis. Tujuannya jelas untuk mempertegas antara fakta dan fiksi, yang akan terus saling bersinggungan dalam setiap peristiwa sejarah. Tanpa kesadaran untuk melakukannya, sejarah akan terus menerus menjadi teka-teki, dan senyatanya sangat sulit belajar satu nilai dari sebuah teka-teki.
Denpasar, 12 November 2009


Sebenarnya tulisannya bisa menjadi enak untuk dibaca. Tetapi kenapa sebuah pengkisahan epos terlalu menjadi masalah dan dihubungkan dengan sejarah? Sehebat apapun Mahabharata menjadi sebuah kisah yang tidak lekang oleh rintik hujan, dia tetaplah sebuah cerita. Dan bukan sejarah. Pengarangnya terlalu hebat untuk menjebak para pembacanya menjadikannya keniscayaan sejarah. Tetapi bukan disitu sesungguhnya harapan pengarangnya. Harapannya adalah Mahabharata akan menjadi buku pembelajaran terbaik buat umat manusia di bumi. Tetaplah berkarya Bli, tetapi saran saya boleh mengambil inspirasi dari epos tetapi jangan dihubungkan dengan sejarah. dan satu lagi, aku tidak terlalu paham ending dan maksud ceritanya.
Tetapi bli, anda penulis yg berbakat. Maju terus, karena kata2 di dalamnya sangat indah. Jangan dikalahkan oleh yang lebih muda seperti kacangan Moch Satrio Welang itu yang semakin digandrungi orang. Anda bisa lebih dari dia.