<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Remaja dan Sastra</title>
	<atom:link href="http://nyomansutarsa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com</link>
	<description>Remaja Kreatif dan Bertanggungjawab</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 09:29:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nyomansutarsa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Remaja dan Sastra</title>
		<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nyomansutarsa.wordpress.com/osd.xml" title="Remaja dan Sastra" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nyomansutarsa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>SMS Untuk Bapak:</title>
		<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/12/07/sms-untuk-bapak/</link>
		<comments>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/12/07/sms-untuk-bapak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 10:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bapak]]></category>
		<category><![CDATA[Rindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nyomansutarsa.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Dua tahun lebih, bapak telah pergi menemui takdirnya yang baru. Melepas segala bentuk ikatannya dengan dunia. Bagiku tidak ada satu pun yang hilang, kenangan pematang sawah sore hari, kopi tanpa gula, kesedihan melihat bapak berbaring di tempat tidur. September 2007, bapak pergi menjalani kembali roda karmanya. Aku belum sempat mengatakan padanya bahwa karena kesibukanku, atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=88&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua tahun lebih, bapak telah pergi menemui takdirnya yang baru. Melepas segala bentuk ikatannya dengan dunia. Bagiku tidak ada satu pun yang hilang, kenangan pematang sawah sore hari, kopi tanpa gula, kesedihan melihat bapak berbaring di tempat tidur. September 2007, bapak pergi menjalani kembali roda karmanya. Aku belum sempat mengatakan padanya bahwa karena kesibukanku, atau kemalasanku semasa kuliah, aku terpaksa menunda masa wisuda dokterku 6 bulan. Dia juga belum sempat mengucapkan selamat ketika aku mengenakan toga hitam bergaris hijau dan kuning, setidaknya aku tidak melihatnya. Barangkali ia tersenyum puas, melihatku sudah menemukan bentukku. ”Sekarang penghalusannya kuserahkan pada tangan waktu” barangkali itu gumamnya.</p>
<p>Malam ini, aku sengaja menuliskan ini untuk mengenangmu, Bapak. Orang yang telah menukar nasibnya untuk masa depan 3 anak laki-lakinya. Walau bukan orang yang hebat, dia adalah bapak yang lembut. Memang suaranya keras, sekeras hati dan kisah hidupnya, menjadikan aku lebih mampu bertahan. Bertahan untuk terus bermimpi, lalu menggenggam impian. Lewat tangannya aku menaiki tangga batu, mendekati sinar terang.</p>
<p>”Bapak, aku tahu kau tidak sungguh-sungguh meninggalkan kami semua. Dari balik angin, kau senyatanya membantu kami semua dengan lebih keras, mengundang segala peruntungan baru bagi kami semua. Ah bapak, dari dulu kau tidak pernah berubah, selalu memberi lewat orang lain. Kau tentu tak ingin kami tahu kalau kau sangat penyayang bukan? Di depan kami, kau selalu meributkan hal yang kecil: halaman yang belum disapu, gelas dan piring kotor, atau lampu yang lupa dimatikan pagi hari. Ah, betapa itu adalah pelajaran yang baru kupahami maknanya belakangan. Tapi tetap saja, aku seringkali lupa memadamkan lampu kamarku di pagi hari. Oya, Putu, Angga dan Risal sekarang sudah besar, tidak ada yang mengajarinya mencuci kamar mandi ataupun membersihkan toilet, mereka sangat nakal, melebihi kenakalan kami bertiga, anak-anakmu. Sekarang semua sudah berbeda, mereka tentu tidak akan pernah mengenal mengusir burung dari padi-padi yang menguning, atau harus melakukan sesuatu sebelum mendapat imbalan uang jajan. Tiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah mereka minta uang 2000, hampir 10 kali lipat dibanding pada masa aku SD. Oya, aku sekarang sudah bekerja, seperti yang dulu sering kita diskusikan, aku memutuskan untuk menjadi dosen saja, bosan dengan aroma rumah sakit. Biarlah kenangan ruang operasi dan ruang teratai hanya jadi kenangan saja. Apa aku harus memberitahukan semuanya, tentang kesedihanku, kesenanganku, pacar, teman, sahabat, dan rencanaku ke depan? Ah, kau selalu begitu, selalu pura-pura tidak tahu. Tapi kadang-kadang kau juga sedikit sok tahu hahahaha&#8230;..”</p>
<p>Aku tertawa dan menangis. Aku menyayangimu, Bapak-ku yang tangguh!</p>
<p>Denpasar, 17 November 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nyomansutarsa.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nyomansutarsa.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nyomansutarsa.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nyomansutarsa.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nyomansutarsa.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nyomansutarsa.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nyomansutarsa.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nyomansutarsa.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nyomansutarsa.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nyomansutarsa.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nyomansutarsa.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nyomansutarsa.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nyomansutarsa.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nyomansutarsa.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=88&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/12/07/sms-untuk-bapak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd935391f838662cc34fb6b2b6c715cd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutarsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bara Dupa: Permulaan yang Baru</title>
		<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/11/13/bara-dupa-permulaan-yang-baru/</link>
		<comments>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/11/13/bara-dupa-permulaan-yang-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 08:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Generasi Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mahabrata]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nyomansutarsa.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Seperti kelahiran Panchali, malam ini aku dapati diriku sedang duduk dihadapan harian yang sudah terlampau lama tidak aku tulisi. Terlalu banyak kisah yang ingin aku luapkan di halaman-halaman putihnya. Barangkali ada juga ceritamu di dalamnya. Aku tidak akan mengawali halaman baru ini dengan umpatan ataupun pujian, melainkan menuliskan kisah kontemplatif bagi kita semua. Ada yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=86&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Seperti kelahiran Panchali, malam ini aku dapati diriku sedang duduk dihadapan harian yang sudah terlampau lama tidak aku tulisi. Terlalu banyak kisah yang ingin aku luapkan di halaman-halaman putihnya. Barangkali ada juga ceritamu di dalamnya. Aku tidak akan mengawali halaman baru ini dengan umpatan ataupun pujian, melainkan menuliskan kisah kontemplatif bagi kita semua.</em></p>
<p><em>Ada yang istimewa ketika aku melihat bara dupa yang kian redup, selanjutnya debu beterbangan bersama wewangian asap. Aromanya memasuki hidung dan mengendap di dasar memori, sedang debunya lekat di pori. Aku mencoba mengingat kisah Mahabrata bersama bara dupa yang kian redup, mulai kelahiran Panchali dari api pemujaan selama 100 hari, sampai hari kematiannya di pertengahan Himalaya yang agung. Tentu dia bukan berkah yang diharapkan untuk hadir, melainkan dia adalah penyerta kelahiran Dre, kakaknya. Keduanya membawa takdir masing-masing, yang akan menorehkan sejarah panjang di kelana Pandawa. Aku menemukan diriku larut dalam kisah-kisah kelahiran seperti itu, membayangkan kedekatan para dewa dengan manusia. Membayangkan hal yang mustahil tentang kelahiran sepasang saudara dari api, yang konon katanya atas perintah Khrisna. Tentu akhirnya ini menjadi satu cerita yang barangkali tidak mampu diperdebatkan ditatanan harfiah, melainkan harus ditembus lebih dalam, dan diperdebatkan dijajaran esensi. Sama ketika kita mendiskusikan tentang keniscayaan surga dan neraka: bahkan diakhir hidupnya, di pertengahan Himalaya, pertanyaan menarik diajukan oleh Panchali </em><em>“Apakah surga dan neraka itu benar-benar ada?” Lalu dengan ringan Khrisna menjawab bisa ada, bisa juga tidak. Percakapan ini membuatku merenung, kalau pada epos besar tersebut juga tidak ada kepastian tentang surga dan neraka, adakah hal lain yang juga masih menjadi teka-teki sampai saat ini?<span id="more-86"></span></em></p>
<p><em>Teka-teki, semua kisah-kisah besar dan sejarah adalah teka-teki. Dituliskan ulang untuk satu kepentingan. Mahabrata ditulis untuk mengingatkan kita bahwa ada roda karma yang akan terus berjalan, bahwa diluar kehidupan ini juga berlangsung kehidupan lain, yang tentu saja saling mengait satu dengan lainnya. Epos ini dengan lugas menyatakan bahwa amarah, nafsu, dan dendam hanya berujung pada duka dan sengsara berkepanjangan. Lalu bagaimana dengan sejarah kelahiranmu? Aku akan mengawali dengan cerita kelahirannku.</em></p>
<p><em>Tidak ada yang istimewa. Kata ibuku, aku tercipta karena kegagalan metode kontrasepsi pil, barangkali ibuku lupa meminumnya satu hari, dan karenanya sel telur itu akhirnya dibuahi oleh sel sperma ayahku. Maklum saja, ibuku bukanlah orang yang berpendidikan, tapi dia dan juga ayahku mewarisi begitu banyak hal yang lebih esensial bagi hidup dibanding sekedar kepintaran. Kata ibuku, aku sempat akan digugurkan. Barangkali karena keluargaku miskin, jadi kalau harus menambah satu anak lagi akan menambah kesulitan keluarga. Kedua kakakku sudah memberikan beban yang berat bagi kedua orang tuaku. Keputusan diambil, kehamilan ibuku dilanjutkan. Sambil, bertani di tanah yang bukan miliknya, ayah dan ibuku diam-diam menanamkan harapan supaya aku terlahir dengan banyak keberuntungan. Tepat bersama perayaan keris dan logam, aku dilahirkan di bidan, katanya aku tidak segera menangis. Kalau aku teruskan, aku akan terus membanggakan kedua orang tuaku yang tangguh.</em></p>
<p><em>Lalu, bagaimana kelahiran Indonesia? Sudah terlampau lama kita melupakan kelahiran Indonesia. Barangkali kita sudah melebur dengan kekinian, dimana batas antara realita dan imajiner sangat tipis. Aku memikirkan apakah sejarah yang pernah aku pelajari dulu adalah sejarah yang senyatanya? Sejarah yang diceritakan oleh para saksi. Panchali oh Panchali, yang mendapatkan anugrah mata ketiga dari Byasa, mengapa dia tidak pernah mau menceritakan kesedihan Korawa di Kuru Setra? Apakah dalam kisah Mahabrata juga ada kisah-kisah yang dengan sengaja dihilangkan? Tidakkah sejarah yang dulu aku pelajari juga hanya sejarah rekaan, hanya sejarah para penguasa? Apapun itu, sejarah tetaplah sejarah, namun sejarah juga bukan kebenaran absolut yang harus diterima tanpa mengalami proses penyaringan kritis. Tujuannya jelas untuk mempertegas antara fakta dan fiksi, yang akan terus saling bersinggungan dalam setiap peristiwa sejarah. Tanpa kesadaran untuk melakukannya, sejarah akan terus menerus menjadi teka-teki, dan senyatanya sangat sulit belajar satu nilai dari sebuah teka-teki.</em></p>
<p style="text-align:left;"><em>Denpasar, 12 November 2009</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nyomansutarsa.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nyomansutarsa.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nyomansutarsa.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nyomansutarsa.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nyomansutarsa.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nyomansutarsa.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nyomansutarsa.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nyomansutarsa.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nyomansutarsa.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nyomansutarsa.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nyomansutarsa.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nyomansutarsa.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nyomansutarsa.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nyomansutarsa.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=86&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/11/13/bara-dupa-permulaan-yang-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd935391f838662cc34fb6b2b6c715cd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutarsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nafas Malam</title>
		<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/02/03/nafas-malam/</link>
		<comments>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/02/03/nafas-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 01:44:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nyomansutarsa.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Malam-malam gigil, aku titipkan sisa nafas di tubuhmu&#8230;. memburu langit pada barisan gerimis. Hari berlari diatas rumput basah, enggan bersapa gelisah atau gundah&#8230;., kenanga kuning yang lirih, biar saja mereka saling benci&#8230; malam hanya siang tanpa matahari, tak perlu meranggas&#8230;. kupas saja bintang biar terang&#8230;. Lebah madu beradu rindu di ujung putik, cumbui aku yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=84&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam-malam gigil, aku titipkan sisa nafas di tubuhmu&#8230;.</p>
<p>memburu langit pada barisan gerimis.</p>
<p>Hari berlari diatas rumput basah,</p>
<p>enggan bersapa gelisah atau gundah&#8230;.,</p>
<p>kenanga kuning yang lirih,</p>
<p>biar saja mereka saling benci&#8230;</p>
<p>malam hanya siang tanpa matahari,</p>
<p>tak perlu meranggas&#8230;.</p>
<p>kupas saja bintang biar terang&#8230;.</p>
<p>Lebah madu beradu rindu di ujung putik,</p>
<p>cumbui aku yang haus sinar&#8230;.</p>
<p>berikan kunang-kunang atau bintang&#8230;</p>
<p>bukan mentari atau redup lilin yang leleh&#8230;.</p>
<p>maka aku titipkan sisa nafas padamu&#8230;</p>
<p>malam-malam yang gigil&#8230;..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nyomansutarsa.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nyomansutarsa.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nyomansutarsa.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nyomansutarsa.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nyomansutarsa.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nyomansutarsa.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nyomansutarsa.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nyomansutarsa.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nyomansutarsa.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nyomansutarsa.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nyomansutarsa.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nyomansutarsa.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nyomansutarsa.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nyomansutarsa.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=84&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/02/03/nafas-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd935391f838662cc34fb6b2b6c715cd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutarsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ziarah Pasir</title>
		<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/01/10/ziarah-pasir/</link>
		<comments>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/01/10/ziarah-pasir/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 15:30:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Pasir]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Ziarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nyomansutarsa.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Aku tuliskan takdir ini lewat luka dan kecewa. Bukan untuk Tuhan yang tidak bisa adil, atau Kau yang tidak pernah setia, tapi pada waktu, yang selalu membuatku tidak berdaya. Dering serangga dini hari, seperti suara masa silam yang sunyi. Aku bukan malam yang takut akan terang, tapi hanya langit yang ingin berlindung dari matahari. Sengatannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=81&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><em><span lang="FI">Aku tuliskan takdir ini lewat luka dan kecewa. Bukan untuk Tuhan yang tidak bisa adil, atau Kau yang tidak pernah setia, tapi pada waktu, yang selalu membuatku tidak berdaya.<span id="more-81"></span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><span lang="IT">Dering serangga dini hari, seperti suara masa silam yang sunyi. Aku bukan malam yang takut akan terang, tapi hanya langit yang ingin berlindung dari matahari. Sengatannya terlalu menyakitkan. Sama sepertimu yang selalu bagai kupu-kupu. Terlalu indah, tapi tak pernah sanggup kujangkau. Angin menghempas kepompong kering, lalu hinggap di sarang semut merah. Metamorfosis! Aku tidak lagi sama seperti aku yang dulu. Aku kehilangan sayap sebelum aku sempat jadi kupu-kupu. Ketika aku berharap kau akan berbagi sayap warna-warni bersamaku, seketika kau letakkan sayapmu di sana: brengsek! Sungguh dunia ini begitu brengsek. Kita, kau dan aku sudah terlalu lama terjebak di dalamnya!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="IT">Namaku Istri. Aku berasal dari jaman batu. Aku terlahir dari liang karang yang karam. Bukan karena buih aku berwujud, tapi kau yang memberiku roh. Biarkan pasir menuliskan sendiri jejak waktu, karena sebentar lagi ombak akan menghapusnya. </span>Akulah butir pasir, mengalir bersama arus. Angin bergulungan, buih memuncah di kulit. <span lang="IT">Aku tumbuh di garis pantai, di antara gubug-gubug petani rumput laut. Benarkah ayahku telah dibawa Dewi Segara di malam gelap saat usia kandungan ibu 7 bulan? Atau ini hanya cerita seadanya untuk mengisi ruang tanya yang mulai tumbuh di anganku? Entahlah, ibu selalu berkata hal yang sama setiap saat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IT"><span> </span></span><span lang="FI">Ibuku, seorang perempuan kuat, pekerja keras, ulet, tidak pernah menyerah. Setidaknya itulah yang bisa aku gambarkan tentangnya. Dia lembut, penyayang, penuh perhatian. Ini pula sisi lain dari ibu. Keduanya membaur tidak berbatas. Perempuan adalah mahluk paling ajaib yang pernah aku kenal. Dari dini hari sampai hari larut, ibuku selalu bergerak: dinamis. Memasak, mencuci, mencari uang, semua dikerjakan sendiri. Aku lebih senang bermain pasir di pinggir pantai, bersama buih dan merpati senja. Perempuan-perempuan senja, memang tampak jauh lebih anggun dari sisa waktu lainnya. Menjinjing <em>Canang</em> pada lengan kiri, selendang yang melingkari pinggang, harum dupa yang menusuk sampai di dasar batin, membuatku merasa damai. Sama seperti doa ibuku sepanjang malam, di pingir pantai: damailah Kau di sana kekasihku. Ombak hanya gumpalan air yang tak tahu arah. Jemari kakinya yang legam, diwarnai buih putih. Lalu jejaknya tertinggal kasar di pasir. Perlahan dihempas ombak dan hilang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="FI"><span> </span>Apakah aku akan menjadi buih atau ombak sore ini? Aku mencintai rambut ibuku. Aromanya yang kasar bercampur asin membuatku linglung. Adakah damai ini karena aku melihat perempuan separuh baya, atau memang senja yang sendu? Ayahku telah menjadi satu dengan ombak. Aku mengenalinya dari aroma laut dan doa ibuku. Sisanya juga mengendap di pasir, dan aku sangat menyukai pasir ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span lang="ES">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="ES">Malam ini terasa sungguh berbeda. Ada keraguan yang selalu menyembul diantara bayang lampu yang remang. Angin tidaklah kencang, bulan tetap tampak sepertiga. Bintang masih di sana, di antara langit yang lapang. Perasaan ini menjadi semakin tidak menentu, biasanya tidurku tidak pernah terganggu seperti ini. Mungkin aku kebanyakan tidur hari ini. Perempuan hamil biasanya memiliki kepekaan yang lebih. Anakku juga tidak pernah diam dari tadi sore. Kakinya selalu menendang rahimku. Ada apa dengannya hari ini, apakah ada sesuatu yang akan terjadi. Aku semakin resah. Antara bimbang dan yakin, aku melangkah ke pinggir pantai. Menatap jauh ke depan, menunggu rombongan itu kembali. Biasanya mereka telah terlihat di tengah-tengah sana, diayun-ayun ombak. Lampu-lampu berdatangan, tampak seperti kunang-kunang malam yang indah. Katanya kunang-kunang adalah lambang bencana. Tapi mengapa pagi ini justru aku terus berpikir tentang kunang-kunang. Temaram, lampu itu tampak temaram. Sambil menunggu cahaya matahari yang sesungguhnya. Perahu itu menepi satu per satu. Aku menunggunya, semua telah menepi, tapi bukan dia. ”Di tengah sana, masih ada satu perahu lagi” katanya. </span><span lang="FI">Pasti itu perahu suamiku. Perahu itu menepi, tidak ada ikan. Bli Nyoman basah kuyub, tapi Made Lanang, suamiku tidak disana. ”Perahu ini terjungkir ombak. Semuanya tumpah. Made tidak lagi muncul di air.” Mungkin hanya mimpi. Hanya mimpi, aku menegaskan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="FI"><span> </span>Alunan angklung mengiring abu suamiku melaut. Alunannya lirih, selirih selonding tua, serupa hatiku yang remuk. Aku titipkan bunga <em>Jepun</em> merah muda bersama roh. Akan aku ziarahi jiwamu setiap senja. Inilah lambang kesetiaan perempuan Bali. Anak kita, akan menjadi seorang yang tangguh, setangguh dirimu. Tunggu di sana, akan kukumpulkan uang dari keringatku, aku akan menjemputmu pulang jadi <em>Sang Hyang Pittara</em>, lalu Kau akan kupuja seiring usia. Ini adalah janjiku kepadamu: aku ikhlas!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span lang="FI">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="FI"><span> </span><span> </span>Jangan panggil aku Luh Istri, jika hanya karena matahari aku tak sanggup melaut. Aku memang dibesarkan di pinggiran pantai. Supaya dekat dengan Ayah, kata ibuku. Aku tidak pernah mengenali wajah ayahku. Semua gambarnya dulu ikut dibakar saat <em>pengabenan</em>. Dari kecil sampai usiaku 15 tahun, aku masih meyakini bahwa ayahku ada di tengah laut. Tabungan ibu belum juga cukup untuk membuat upacara <em>Memukur</em>, menjemput ayah pulang ke rumah. Aku mengenal ayahku dari aroma pasir ini. Keras bercampur lembut. Ayahku, petani rumput laut sekaligus nelayan. Menurut cerita masyarakat kampung, ayahku dipinang oleh <em>Dewi Segara</em>, dan membiarkan aku hidup tanpanya. Tapi ibuku, juga adalah ayahku sekaligus. Dia tidak pernah membiarkan aku merasa kesepian, dia selalu berpesan bahwa aku harus tegar, harus kuat, harus tangguh, seperti ayahku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="FI"><span> </span></span><span lang="NL">Aku tidak pernah mengenal dapur. Ibu melarangku memasak. Katanya itu tugas seorang perempuan. Apakah aku bukan perempuan? Aku memiliki sepasang sembulan daging besar di dadaku, rambutku panjang bergelombang, aku mengalami datang bulan, dan aku punya vagina. Apakah aku bukan perempuan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="NL"><span> </span>Malam itu, rongga tanyaku kehilangan ruang. </span><span lang="IT">Ia tumpah tepat di bulan purnama. “Me, bukankah Iluh seorang perempuan, Iluh juga ingin bisa mengurusi rumah seperti Meme. Iluh yakin, Ayah pasti senang jika Iluh bisa seperti Meme.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="FI">”Tidak Luh. Kamu tidak pantas mengerjakan itu semua. Itu adalah tugas seorang perempuan seperti Meme. Kamu harus menjadi seorang yang tangguh seperti ayah Luh. Kita tidak boleh mengecewakan Ayah. Sudahlah Luh, ini sudah terlampau malam. Ayah juga pasti ingin istirahat.” Sambil menancapkan sebatang dupa yang harum, kami beranjak meninggalkan bibir pantai yang masih basah. Tanyaku belum usai. Tapi semuanya aku simpan di kepalaku. Aku harus menjadi seorang wanita tangguh seperti keinginan ibu, atau aku harus menjadi laki-laki pasir?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="FI"><span> </span>Pagi hari, aku harus ikut menyiangi rumput laut itu. Sesekali, aku mengikuti Pak Nyoman melaut, menjaring ikan. Satu ikan terbang, semakin lama semakin banyak. Inikah yang dikerjakan ayah selama aku masih belum berbentuk? Sangat menyenangkan. Ikan-ikan ditimbang, sekian kilo, sekian receh kukantongi. Inikah rasanya menjadi laki-laki, mencari uang untuk ibu. Jika malam datang, aku ditembangi Putri Bulan. Petuahnya merasuk di raga. Biarkan saja bulan meminang bintang, langit akan tetap cerah di pagi hari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="FI">”Mari merapat Luh. Cakupkan kedua tanganmu di depan ubun-ubun. Ambilkan bunga berwarna putih, ucapkan mantra gaib. Doa kita, kedamaian buat Ayah”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="FI">”Pelan-pelan saja, jangan pernah mengejar waktu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="FI"><span> </span>Ombak tetap saja ombak. Air asin yang kalah oleh angin. Jika bertemu pasir, ia akan menjelma buih. Pelan-pelan aku merasa cemburu. Mengapa ibu lebih mencintai ayah dibandingkan aku. Ibu selalu duduk di pasir setiap sore, bercerita pada angin tentang kerasnya hidup, atau mengeluhkan aku yang tidak bisa kuat seperti ayah. Tapi mengapa aku harus cemburu? Bukankah aku juga mencintai ayah. Aku ingin ibu hanya mencintaiku, bukan orang lain ataupun ayah. Aku mencintaimu Ibu, aku mencintai perempuan!</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nyomansutarsa.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nyomansutarsa.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nyomansutarsa.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nyomansutarsa.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nyomansutarsa.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nyomansutarsa.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nyomansutarsa.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nyomansutarsa.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nyomansutarsa.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nyomansutarsa.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nyomansutarsa.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nyomansutarsa.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nyomansutarsa.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nyomansutarsa.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=81&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/01/10/ziarah-pasir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd935391f838662cc34fb6b2b6c715cd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutarsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Laki-Laki Air</title>
		<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/01/09/laki-laki-air/</link>
		<comments>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/01/09/laki-laki-air/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 10:55:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Air]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tangis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nyomansutarsa.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Angin yang bergulung menerbangkanku ke pangkuanmu. Butir-butir pasir yang halus adalah serpihan hatiku. Maafkan jika aku hinggap di matamu, lalu kau menangis. Aku hanya butir pasir, sama seperti debu atau kerikil hitam. Siapakah yang terluka sesungguhnya? Aku tidak sedang bercerita pada malam ataupun mengeluh pada Tuhan, tapi aku sedang mencoba berkompromi dengan takdirku, menjadi hujan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=77&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><strong><em><span style="font-family:Arial;">Angin yang bergulung menerbangkanku ke pangkuanmu. Butir-butir pasir yang halus adalah serpihan hatiku. Maafkan jika aku hinggap di matamu, lalu kau menangis. Aku hanya butir pasir, sama seperti debu atau kerikil hitam. Siapakah yang terluka sesungguhnya? Aku tidak sedang bercerita pada malam ataupun mengeluh pada Tuhan, tapi aku sedang mencoba berkompromi dengan takdirku, menjadi hujan, menjadi air, yang terus mengalir menuju hilir: Kembali ke Asal!<span id="more-77"></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Satu sore di sudut kota batu, aku bercengkrama dengan burung-burung liar. Mereka sedang ribut mengeluhkan kebebasannya yang mulai terancam. “Banyak pohon-pohon rindang telah ditebang, peremajaan tanaman katanya. Padahal di dahan itu pernah tumbuh cinta pertamaku pada kekasihku, yang sekarang hanya tinggal cerita, ia telah ditembak oleh sekawanan orang berseragam lengkap”. Sungguh burung liar yang malang pikirku. Cepat-cepat ia menyela “kami tidaklah berbeda jauh dengan kaummu, kalianpun sedang berjuang untuk mendapatkan kebebasan bukan? Mari kita bernegosiasi, kalian bantu aku mendapatkan rumahku, maka akan aku jadikan kau sebagai air yang mengalir ke hilir. Menjadi butir air, bulir air, yang mengalir, yang terus mengalir, menuju hilir”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span> </span>Apakah ini yang disebut percakapan hati. Saat aku melihat jauh ke dalam matamu, aku dapati diriku sedang bercerita dengan burung. Mengapa tidak pada mata orang lain, mengapa hanya pada matamu aku bisa dengan jelas mendengarnya. Semacam keluhan yang enggan aku sampaikan pada siapapun, tidak juga pada angin. </span><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Aku telah jatuh cinta pada matamu, pada senyummu, pada kisahmu. Bolehkah aku tuangkan rasa sesak ini ke dalam gelas, lalu kita benturkan mereka sampai nyaring, sampai tanya segera bertemu jawab. Hari ini aku merasa sangat merdeka. Aku telah memiliki diriku sepenuhnya. Lidahku tidak lagi untukmu. Aku telah menang dalam pertarungan ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nyomansutarsa.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nyomansutarsa.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nyomansutarsa.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nyomansutarsa.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nyomansutarsa.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nyomansutarsa.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nyomansutarsa.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nyomansutarsa.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nyomansutarsa.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nyomansutarsa.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nyomansutarsa.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nyomansutarsa.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nyomansutarsa.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nyomansutarsa.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=77&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2009/01/09/laki-laki-air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd935391f838662cc34fb6b2b6c715cd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutarsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Empati : Oase Gurun Pasir</title>
		<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/10/10/sebuah-empati-oase-gurun-pasir/</link>
		<comments>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/10/10/sebuah-empati-oase-gurun-pasir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 01:18:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Dukungan]]></category>
		<category><![CDATA[Empati]]></category>
		<category><![CDATA[HIV dan Aids]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nyomansutarsa.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Wajahnya setengah tertunduk, matanya mengiba meminta belas kasihan pada kalian semua. Semakin lama mata itu semakin redup, wajahnya semakin tertunduk, menyesakkan bentuknya ke dalam ruang batin yang rapuh. Siapakah yang hilang rasa, aku atau kalian? Wajah itu seketika menengadah, matanya nanar tajam, serupa belati purba yang haus darah. Semangatnya menggebu, semangat untuk berjuang, semangat untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=73&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Wajahnya setengah tertunduk, matanya mengiba meminta belas kasihan pada kalian semua. Semakin lama mata itu semakin redup, wajahnya semakin tertunduk, menyesakkan bentuknya ke dalam ruang batin yang rapuh. Siapakah yang hilang rasa, aku atau kalian? Wajah itu seketika menengadah, matanya nanar tajam, serupa belati purba yang haus darah. Semangatnya menggebu, semangat untuk berjuang, semangat untuk hidup, dan mencoba berkawan dengan virus-virus yang lucu ini.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Bolehkah aku meminta segelas harapan pada bulan malam? Manusia sudah terlampau miskin dengan kasih sayang. Aku tidak lagi mengenali rupa-rupa kerabat. Mereka semua menghilang, sesaat setelah aku keluar dari rumah sakit. Angin terlalu kencang meniup isu, cerita tentang hasil tes VCT yang aku jalani seketika menjadi jajanan kopi susu di warung-warung. Bahan obrolan sore hari ibu-ibu PKK, bahkan contoh terkutuk yang selalu didengungkan para pendakwah. Aku tidak sedang mencari pembenaran atas penyakitku, aku hanya ingin mereka mengerti kalau aku juga seorang manusia yang lemah, manusia yang lahir dari dosa dan rasa haus: haus kasih, haus teman, haus penghargaan, haus cinta, haus persamaan! </span><span id="more-73"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span> </span>”Namaku Surya. Aku lahir, tumbuh, dan besar di Denpasar, kota budaya yang sedang merangkak menuju metropolis. Umurku 14 tahun, siswa kelas 2 sekolah menengah pertama. Jiwaku berasal dari kota purba, mewarisi hedonisme primitif manusia-manusia purba. Sebelum aku diciptakan dari kumpulan sinar, dunia ini katanya tengah dilanda kekeringan, hingga aku dilahirkan dalam rasa haus. Aku tumbuh ditengah-tengah ruang tanya, yang tidak pernah bertemu jawab. Orang tuaku sangat sibuk, sibuk mengurusi perut dan adat. Aku lalu bersekutu dengan waktu, mencari jawab dengan caraku sendiri. Saat malam datang, ia menyapa lewat mimpi. Aku memimpikan ranjang penuh mawar, harum dupa yang memecah ubun-ubun, desah nafas yang saling berkejaran di balik kabut, dan aku yang berbaring di sampingnya: burung liar yang memberiku nikmat semalam. Tidak pernah aku bayangkan kalau aku akan diasingkan: oleh waktu ataupun kerabat. Burung liar yang manis, aku tidak pernah menyalahkanmu, kau yang memberiku nikmat, kau juga yang mewariskan HIV di darahku”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span> </span>Begitulah caraku memberi testimoni di hadapan remaja-remaja yang sedang berburu informasi tentang HIV dan Aids. Bukan sekedar kata, melainkan emosi dan harapan yang aku bagikan pada mereka. Bisakah kita renungkan sejenak : aku terinfeksi HIV saat aku berusia 14 tahun, semuanya karena ketidaktahuan, karena larangan yang tidak beralasan, keinginan berekspresi, dan krisis identitas. Lalu aku divonis HIV+ saat aku berumur 18 tahun. Aku tersungkur dalam waktu lama, lalu bangkit kembali. Saat ini usiaku ternyata sudah 22 tahun. Terlambatkah menurutmu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span> </span>Remaja memang masa yang paling sulit. Pertumbuhan fisik yang cepat disertai gejolak hormonal sudah merupakan masalah. Jika ini diperberat dengan larangan yang tidak beralasan, mitos-mitos seputar seksualitas, dan upaya edukasi yang terbatas, maka akan semakin banyak remaja yang tidak cerdas dan bijak dalam membuat keputusan. Hasilnya adalah peningkatan permasalahan remaja, kejadian aborsi meningkat tajam, angka penularan HIV semakin tinggi, lalu kematian potensi generasi muda akan mengikuti. Bagaimana nasib bangsa jika kondisi ini dibiarkan berlanjut?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span> </span>Permasalahannya masih berpusat pada perbedaan sudut pandang. Pengalaman yang aku alami, akhirnya membuatku berpikir bahwa lemahnya akses informasi adalah mata rantai yang harus segera diputus. Sebaliknya, beberapa kalangan tetap berpendapat bahwa akses terhadap informasi adalah mata rantai baru yang tidak boleh digulirkan. Dari mana akan kita awali rangkaian langkah taktis jika kita masih berdebat soal sumber masalah? Informasi hampir menjadi kebutuhan semua orang, termasuk informasi seputar seksualitas. Justru informasi yang keliru, yang dikaburkan antara mitos dan fakta, yang harus kita perangi bersama. Satu contoh kecil misalnya, orang-orang yang menderita HIV adalah sekelompok orang yang memiliki perilaku buruk, orang-orang yang dikutuk oleh Agama, orang yang tidak bermoral, dan serentet label lain yang menyesakkan dada. Bagaimana dengan bayi-bayi baru lahir yang mewarisi HIV dari darah ibunya? Bagaimana dengan dokter-dokter dan perawat kesehatan yang tertular saat merawat pasiennya? Masihkan kita berpandangan bahwa penderita HIV adalah golongan orang yang amoral? Penyebaran informasi yang benar mengenai cara penularan HIV telah mengikis pandangan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Butiran air mata bergulir ketika aku mendapat stigma di masyarakat. Aku memang tertular karena aku berhubungan seksual dengan pekerja seks yang kebetulan terinfeksi HIV. Kesadaranku akan pentingnya penggunaan kondom, perilaku seksual yang berisiko, dan bahaya HIV masih minim. Ini terjadi karena aku tidak memiliki akses terhadap sumber informasi yang benar. Sungguh aku sangat merasa iri dan cemburu, dengan akses yang mereka miliki. Pertanyaannya, mengapa masih banyak juga remaja kita yang terinfeksi HIV, banyak yang melakukan aborsi, mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, sampai pada percobaan bunuh diri. Apa sesungguhnya makna di balik semua ini? Apakah sekedar penyuluhan saja masih belum memadai, apakah informasi yang kita sampaikan masih dikalahkan oleh hantaman mitos, atau memang remaja memerlukan dukungan layanan yang komprehensif?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Aku hanya membayangkan sama seperti yang aku alami. Andai saja dua tahun yang lalu aku tidak bertemu dengan kelompok dampingan sebaya, mungkin saat ini aku masih menyendiri sambil terus merenungi diri, tanpa berbuat apapun untuk kemajuan. Mereka membuatku lahir kembali, membuatku sadar bahwa HIV bukanlah akhir sebuah perjuangan, HIV bukanlah akhir dari hidup. Kelompok dampingan seperti inilah yang dibutuhkan oleh remaja-remaja kita. Disamping menyediakan informasi yang benar dan konsisten, kelompok/lembaga ini juga berperan sebagai motor penyemangat untuk tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan bertanggung jawab, serta memotivasi mereka untuk berbuat sesuatu bagi kemajuan semua remaja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Upaya ini adalah langkah yang mengawali pemanusiaan remaja, memperlakukan remaja sebagai individu yang utuh, dengan segala hak dan kewajiban yang melekat padanya. Pelayanan yang integratif dan terjangkau adalah upaya pembentukan remaja yang cerdas. Pertanyaannya kemudian, siapa yang akan menyediakan layanan terpadu tersebut? Tidak mudah membangun layanan terpadu dalam satu atap. Tentunya banyak pihak yang harus berperan serta dalam rangka mewujudkannya. Layanan remaja terpadu bisa jadi merupakan pintu masuk bagi semua remaja, entah untuk bersosialisasi, mencari dukungan, saling memotivasi, atau menemukan identitas yang sesungguhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Aku tidak rela jika satu demi satu remaja yang menderita HIV+ menghilang, sambil duduk diam menyesali diri. Layanan inilah yang sangat kita perlukan. Dorongan atau kelapangan hati adalah motor semangat bagi mereka. Aku memiliki keyakinan penuh bahwa setiap orang memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Remaja juga bagian dari dunia. Mereka mewarisi semangat bumi yang agung. Bisakah kita membangkitkan atau menyalakan kembali semangat tersebut? Tanggung jawab ada di pundak kita, jika memang kita perduli. Kita tidak perlu menjadi Tuhan atau malaikat untuk bisa saling bantu, kita hanya perlu ketulusan hati dan mengerti cara berempati. Sudah siapkah kita berevolusi, jadi manusia yang tulus dan penuh empati?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kini wajahku tidak lagi tertunduk, tapi menatap ke depan dengan penuh gairah. Bahwa hidup adalah perjuangan, bahwa hidup adalah kesempatan. Jika satu saat nanti, maut memintaku menjadi temannya, dengan senyum riang akan aku ulurkan tanganku, lalu jiwaku akan kubiarkan dibawa terbang: jauh entah akan berujung dimana&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</span></em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nyomansutarsa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nyomansutarsa.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nyomansutarsa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nyomansutarsa.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nyomansutarsa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nyomansutarsa.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nyomansutarsa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nyomansutarsa.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nyomansutarsa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nyomansutarsa.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nyomansutarsa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nyomansutarsa.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nyomansutarsa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nyomansutarsa.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=73&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/10/10/sebuah-empati-oase-gurun-pasir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd935391f838662cc34fb6b2b6c715cd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutarsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepasang Mata Bening</title>
		<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/09/09/sepasang-mata-bening/</link>
		<comments>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/09/09/sepasang-mata-bening/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 04:52:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Bening]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Mata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nyomansutarsa.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Ada sepasang mata yang saling berebut udara malam ini, melintasi kabut tanpa percakapan, sepasang mata yang bening cerita tentang tembang asmara atau tentang bunga rumput yang diterbangkan angin. Aku tertunduk menyembunyikan pandang pada dingin di pori-pori ruang itu terlampau sempit rasa atau asa, semakin sesak rahasia itu terungkap menetas dari siluet cinta yang samar Malam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=69&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Ada sepasang mata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;"><span> </span>yang saling berebut udara malam ini,</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">melintasi kabut tanpa percakapan,</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">sepasang mata yang bening</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;"><span> </span>cerita tentang tembang asmara</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">atau tentang bunga rumput yang diterbangkan angin.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Aku tertunduk menyembunyikan pandang</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;"><span> </span>pada dingin di pori-pori</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">ruang itu terlampau sempit </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-family:Arial;">rasa atau asa, semakin sesak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">rahasia itu terungkap</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">menetas dari siluet cinta yang samar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Malam yang muram</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;"><span> </span>berikan aku satu sisimu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">aku habis kata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">yang tersisa hanya rasa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;"><span> </span>degup jantung dan sisa nafas</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">sebentar lagi akan menguap</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">mata bening sepasang matamu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">aku menyimpan rindu pada sinarmu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Mata bening sepasang matamu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;"><span> </span>bayangku tersangkut redup matamu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">linglung tak kenal jalan pulang</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">ia tersesat dan memilih diam disana</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">dalam bening sepasang matamu. </span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nyomansutarsa.wordpress.com/69/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nyomansutarsa.wordpress.com/69/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nyomansutarsa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nyomansutarsa.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nyomansutarsa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nyomansutarsa.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nyomansutarsa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nyomansutarsa.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nyomansutarsa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nyomansutarsa.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nyomansutarsa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nyomansutarsa.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nyomansutarsa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nyomansutarsa.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nyomansutarsa.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nyomansutarsa.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=69&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/09/09/sepasang-mata-bening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd935391f838662cc34fb6b2b6c715cd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutarsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasib Waktu</title>
		<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/09/08/nasib-waktu/</link>
		<comments>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/09/08/nasib-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 15:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nyomansutarsa.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[“Aku tuliskan takdir ini untukmu, sebagai perlawanan atas kekuasaan waktu, yang selalu membuat manusia tidak berdaya. Kerutan diantara senyum liat, rambut-rambut putih, atau tulang kita yang semakin keropos. Jika Tuhan tidak bisa menciptakan waktu bagi Sang Waktu, mari kita gariskan nasibnya pada tangan-tangan ajaib kita” Ayahku adalah seorang pekerja keras, sangat keras. Ia adalah seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=65&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><span style="font-family:Arial;">“Aku tuliskan takdir ini untukmu, sebagai perlawanan atas kekuasaan waktu, yang selalu membuat manusia tidak berdaya. </span></em></strong><strong><em><span style="font-family:Arial;">Kerutan diantara senyum liat, rambut-rambut putih, atau tulang kita yang semakin keropos. </span></em></strong><strong><em><span style="font-family:Arial;">Jika Tuhan tidak bisa menciptakan waktu bagi Sang Waktu, mari kita gariskan nasibnya pada tangan-tangan ajaib kita”</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:50%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span id="more-65"></span><span style="font-family:Arial;">Ayahku adalah seorang pekerja keras, sangat keras. Ia adalah seorang buruh di pabrik minyak kelapa, sekaligus seorang petani. Ia terus mengayuh hidup dengan sederhana. Apa yang kita bayangkan dari kehidupan seorang buruh atau petani: miskin, terpuruk, kelaparan, terhina! Tapi tidak dengannya. Setetes keringatnya kemudian menjelma nasi untukku dan kedua kakakku. Aku bayangkan lagi sosoknya yang sudah almarhum 13 September setahun yang lalu. Raut muka yang tegas, tapi tidak menyeramkan. Kulit yang kasar dan berwarna legam, sekeras hati dan semangatnya untuk menghidupi keluarga. Ayahku telah berdamai dengan waktu. Ia pernah memperbudak dirinya untuk waktu, ia menggadaikan dirinya. Waktu tidak pernah mengasihani ayahku, ia terus memperbudak ayahku dengan kejam. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun: ayahku tergadai. Mengapa aku baru memahami makna perjuangan ayahku sekarang? Aku bayangkan bahwa ia memiliki mimpi: sebuah angan tentang masa depan yang gemilang, sekolah yang tinggi, menjadi orang yang pintar, lalu kembali menggadaikan diri pada waktu. Semuanya untuk mengisi kantong dengan uang. Uang memang telah menjadi sendi kehidupan manusia, tapi ia tidak pernah memberi jiwa ataupun bahagia yang kekal. Paradigma uang akan membawa kebahagiaan telah menjebak pemikiran ayahku. Aku kehilangan waktu bersamanya. Seumur hidup mungkin ayahku tidak pernah benar-benar merdeka, ia tetap terjajah, terjajah oleh waktu, uang, dan kapitalisme. Tapi ia telah membuka pikiranku untuk menjadi manusia yang benar-benar merdeka: manusia yang bisa berfikir melampaui waktu!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Pikiran tentang ayahku tiba-tiba menyeruak setelah aku membaca cerpen Kerja, Nasi, dan Kebebasan. Satu lingkaran kehidupan yang senantiasa dialami oleh masyarakat kelas marginal. Ini seperti pertarungan antara roda pedati dan jarum jam. Tidak sekedar menunggu siapa yang kalah atau menang, tetapi siapa yang akan terbunuh dan siapa yang akan jadi pembunuh. Detik dan roda selalu saja berebut ruang. Detik berputar, roda bergulir, detik berhenti dan rodapun diam seketika. Detik berdenting, roda semakin kencang bergulir dan terus bergulir sampai akhirnya hancur membentur dinding waktu. Siapa yang sesungguhnya terluka?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku juga pernah tergadai oleh waktu di usia 4 tahun. Saat aku kehilangan sebelah kakiku, aku menghabiskan jam demi jam di tempat rehabilitasi. Jika dulu aku sangat gemilang karena di ujung sana ada seorang dokter yang sedang menunggu dengan sebuah permen, hari ini pun aku tetap tersenyum karena aku telah mendapatkan kembali kakiku. Waktu yang telah mengembalikan sebelah kakiku. Mengapa aku bisa menang melawan waktu saat usiaku 4 tahun? Karena saat itu ibuku telah berfikir melampaui waktu. Siapakah yang bahagia sesungguhnya? Ibuku telah meminta kembali kebebasanku pada waktu dan aku tidak lagi dianggap sebagai seorang cacat. Kemenangan besar atas waktu. Mari kita rayakan kemenangan ini! Jika ayahku menggadaikan dirinya demi uang, untuk hidup, dan kemenanganku, ibuku juga menggadaikan dirinya untuk kemenanganku. Ternyata mereka tidak sepenuhnya merdeka. Ini memaksaku berfikir dan terus merenung: untuk siapa sebenarnya kita hidup dan siapakah yang sesungguhnya berhak atas hidup kita? Apakah waktu, masa lalu, kekinian, ataukah kebebasan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku merasakan sendiri bagaimana kapitalisme merebut kebebasan keluargaku. Kapitalisme telah menancap kuat di antara tatanan masyarakat kita. Kapitalisme memaksa semua orang untuk bekerja. Kalau keluargaku ternyata terjajah oleh waktu, maka semua keluarga-keluarga lainnya juga terjajah oleh kapitalisme. Pikiran kita telah dijajah kapitalisme. Apakah kita benar-benar merdeka? Kapitalisme dalam bahasanya yang halus, telah duduk sebagai dewan penasehat negara. Ia tumbuh dengan subur lalu mengakar menjadi sebentuk budaya baru. Keluarga memang pemeran sebuah budaya, namun keluarga juga banyak diatur oleh kepentingan penguasa, sehingga budaya yang berkembang adalah kepentingan para penguasa. Lalu apakah yang sesungguhnya disebut budaya? Kalau kepentingan (atau budaya) dalam keluarga diatur oleh penguasa (negara), maka negara juga diatur oleh kapitalisme. Beranikah kita mengatakan bahwa kita telah merdeka sepenuhnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:50%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><strong><em><span style="font-family:Arial;">Ibu, maafkan aku jika aku menuliskan takdir ini</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><strong><em><span style="font-family:Arial;">aku hanya ingin jujur seperti kunang-kunang temaram</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><strong><em><span style="font-family:Arial;">jika kemudian aku menjelma jadi sebutir pasir</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><strong><em><span style="font-family:Arial;">dan hinggap di matamu sehingga air mata berderai</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><strong><em><span style="font-family:Arial;">aku juga minta maaf,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><strong><em><span style="font-family:Arial;">siapakah sesungguhnya yang terluka ?</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:50%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ini seperti sebuah perjalanan pulang, mengurai kembali sudut-sudut kota yang pernah kita tinggalkan. </span><span style="font-family:Arial;">Masihkah kita ingat nama jalan itu, tempat semua cerita kita endapkan? Ataukah ia telah menjadi sebuah jalan tanpa nama, yang diisi oleh sekawanan ibu-ibu paruh baya, menembang khusuk atas cerita kehilangan. Kita memang telah kehilangan nama, kehilangan identitas, dan mungkin kita akan kehilangan kebebasan. Kita sesungguhnya tidak betul-betul merdeka dan bebas, kita dijajah oleh kepentingan penguasa. Penguasa sendiri terjerat oleh kapitalisme. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seekor kupu-kupu warna warni hinggap di sepucuk kembang sepatu, menghirup wangi bunga, esensi dari hidup. Mari belajar pada perangai kupu-kupu. Metamorfosis sempurna dari seekor ulat daun, menghidupi dirinya dengan memakan pucuk daun-daun muda. Sangat egois, bertahan hidup sendiri. Lalu ia menjadi kepompong, melakukan kontemplasi diri yang panjang. Mungkin ia berfikir, apakah aku akan terus hidup sebagai pemakan daun? Lalu ia lahir kembali sebagai mahluk bersayap yang indah. Menghirup wangi dan sari bunga tanpa merusak keindahan Sang Bunga. Bisakah manusia hidup harmonis seperti bunga dan kupu-kupu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><strong><em><span style="font-family:Arial;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:50%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Dimana akan kita semaikan wangi tubuh jika hidung kita telah sesak dengan aroma kekuasaan. Masihkah tersisa ruang bagi hati kita yang jernih ini? Aku merindukan bening mata anak di lampu merah, sorot dan pandangan teduh mengiba pada nasib. Matanya tengah menggulirkan satu keluh: inikah budaya yang sedang berkembang, bertahan hidup untuk mempertahankan kekuasaan. Anak bermata bening itu memang belum mengerti hal serumit ini. Bukankah kita seharusnya seperti anak-anak, jujur terhadap diri sendiri? Atau memang kita harus mengalami metamorfosa? Bisakah kita menjadi sederhana dan jernih seperti anak-anak, menjadi penguasa atas waktu, walau ia tidak pernah berfikir melampaui waktu. Kita memang tidak bisa menjadi anak-anak, tapi kita bisa berfikir melampaui waktu!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:50%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><em><span style="font-family:Arial;">Ibu, maafkan aku jika aku menuliskan takdir ini</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><em><span style="font-family:Arial;">aku hanya ingin jujur seperti anak-anak</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><em><span style="font-family:Arial;">jika kemudian aku menjelma jadi sebutir pasir</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><em><span style="font-family:Arial;">dan hinggap di matamu sehingga air mata berderai</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><em><span style="font-family:Arial;">aku juga minta maaf,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><em><span style="font-family:Arial;">siapakah sesungguhnya yang terluka ?</span></em></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nyomansutarsa.wordpress.com/65/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nyomansutarsa.wordpress.com/65/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nyomansutarsa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nyomansutarsa.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nyomansutarsa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nyomansutarsa.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nyomansutarsa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nyomansutarsa.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nyomansutarsa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nyomansutarsa.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nyomansutarsa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nyomansutarsa.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nyomansutarsa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nyomansutarsa.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nyomansutarsa.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nyomansutarsa.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=65&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/09/08/nasib-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd935391f838662cc34fb6b2b6c715cd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutarsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malam Terakhir</title>
		<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/08/29/malam-terakhir/</link>
		<comments>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/08/29/malam-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 09:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kuta]]></category>
		<category><![CDATA[Malam]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nyomansutarsa.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Jika saat ini sampai, aku tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa. Kapankah kali terakhir kita menyusuri Kuta di senja hari, sama-sama memuji buih yang lembut. Bergulungan di pasir, lalu kita kehilangan butir senja yang redup, yang tersisa adalah kerlip bintang, debur ombak, dan dirimu disampingku. Dulu aku pernah membayangkan luluh di peluhmu seperti malam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=60&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jika saat ini sampai, aku tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kapankah kali terakhir kita menyusuri Kuta di senja hari, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">sama-sama memuji buih yang lembut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Bergulungan di pasir, lalu kita kehilangan butir senja yang redup, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">yang tersisa adalah kerlip bintang, debur ombak, dan dirimu disampingku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dulu aku pernah membayangkan luluh di peluhmu seperti malam tadi, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">tidak ada kata ataupun kalimat yang terucap, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">mata punya bahasa, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">lidah juga punya kata, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">dan rasa memang tak perlu dikata. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">-Kuta, 29 Agustus 2008-</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nyomansutarsa.wordpress.com/60/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nyomansutarsa.wordpress.com/60/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nyomansutarsa.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nyomansutarsa.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nyomansutarsa.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nyomansutarsa.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nyomansutarsa.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nyomansutarsa.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nyomansutarsa.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nyomansutarsa.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nyomansutarsa.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nyomansutarsa.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nyomansutarsa.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nyomansutarsa.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nyomansutarsa.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nyomansutarsa.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=60&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/08/29/malam-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd935391f838662cc34fb6b2b6c715cd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutarsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Esensi Komunitas Kreatif : Sikap Kritis dan Jiwa Empati</title>
		<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/08/26/esensi-komunitas-kreatif-sikap-kritis-dan-jiwa-empati/</link>
		<comments>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/08/26/esensi-komunitas-kreatif-sikap-kritis-dan-jiwa-empati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 14:39:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Empati]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Kritis]]></category>
		<category><![CDATA[Sahaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nyomansutarsa.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[  Kehidupan yang bernilai dan bermakna adalah perpaduan antara kreativitas dan kerja keras. Pemikiran kreatif akan membentuk jiwa yang peka terhadap kehidupan, lingkungan, seni, dan keilmuan sehingga dapat mengembangkan gerak yang berkualitas. Kaum muda yang memiliki daya kreatif dan pemikiran kritis adalah ujung tombak berbagai aspek kehidupan bangsa. Oleh karena itu, penentu masa depan bangsa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=53&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:200%;"><span style="font-family:Arial&quot;">Kehidupan yang bernilai dan bermakna adalah perpaduan antara kreativitas dan kerja keras. Pemikiran kreatif akan membentuk jiwa yang peka terhadap kehidupan, lingkungan, seni, dan keilmuan sehingga dapat mengembangkan gerak yang berkualitas. Kaum muda yang memiliki daya kreatif dan pemikiran kritis adalah ujung tombak berbagai aspek kehidupan bangsa. </span><span style="font-family:Arial&quot;">Oleh karena itu, penentu masa depan bangsa adalah kualitas dan integritas diri kaum muda. </span><span style="font-family:Arial&quot;">Tantangan ini semakin jelas ketika globalisasi mulai merambah tatanan kehidupan masyarakat kita. Banyak pihak yang menyatakan bahwa globalisasi merupakan sebab dari segala perubahan dan krisis yang kita alami. </span><span id="more-53"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:200%;"><span style="font-family:Arial&quot;">Globalisasi </span><span style="font-family:Arial&quot;">adalah tantangan yang harus dijawab oleh seluruh aspek masyarakat, bukan untuk ditolak, bukan untuk dihindari, melainkan disiasati dengan arif, sehingga menjadi unsur penguat kemajuan bangsa. Satu pertanyaan kemudian muncul dari pemikiran dan renungan mendalam, siapakah yang paling terpengaruh dari rangkaian perubahan tersebut? Berbagai ahli budaya, para psikolog, tokoh agama, akademisi, dan penyelenggara kesehatan menyepakati bahwa remaja adalah elemen yang paling rentan, sehingga upaya preventif dapat diawali dari lapisan remaja. Perubahan sekecil apapun pada remaja, akan berdampak besar bagi kelangsungan bangsa dalam rentang waktu 10 tahun kemudian. Jika generasi muda kita memiliki sikap kritis dan rasa empati, bukan tidak mungkin bangsa kita akan bertumbuh menjadi bangsa yang besar di masa datang. Langkah untuk menumbuhkan sikap kritis dan jiwa empati seharusnya menjadi agenda bersama untuk segera digulirkan. Salah satu media alternatif yang efektif untuk menumbuhkan sikap kritis dan jiwa empati adalah melalui komunitas kreatif, sehingga kedua kualitas tersebut dapat dibina secara berkesinambungan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:200%;"><span style="font-family:Arial&quot;">Komunitas Sahaja adalah komunitas kreatif remaja yang bergerak di bidang penulisan dan pembinaan karya sastra bagi generasi muda. Komunitas Sahaja baru berusia satu tahun, tepatnya berdiri pada tanggal 24 Mei 2007. Banyak tulisan dari anggota Sahaja telah dimuat dalam berbagai media cetak lokal ataupun nasional. Banyak pula diantara mereka yang telah memenangkan berbagai kompetisi penulisan karya sastra baik di tingkat lokal, regional, ataupun nasional. Dalam usia satu tahun, Sahaja lewat empat penulis perempuan yang masih belia telah menerbitkan sebuah buku yang berjudul Waktu Tuhan (Wianta). Ini adalah bukti bahwa komunitas kreatif ternyata mampu membangun sikap kritis, jiwa empati, dan kualitas diri sebagai pribadi, khususnya di antara anggotanya. Komunitas Sahaja adalah satu wadah lintas usia, lintas budaya, lintas keyakinan, lintas pendidikan, dan membuka ruang diskusi yang sangat luas karena adanya perbedaan latar belakang tersebut. Keberagaman ini merupakan kunci utama untuk mewujudkan semangat solidaritas, membangun kebersamaan, serta lebih memaknai keberagaman dalam rangka mendapatkan esensi dari pergaulan, esensi dari perbedaan. Situasi ini kemudian akan membangun sikap kritis dalam melihat segala peristiwa, sekaligus menciptakan jarak kreatif antara pribadi dengan fenomena yang merupakan kekuatan baru dalam berkarya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:200%;"><span style="font-family:Arial&quot;">Komunitas Sahaja sebagai komunitas kreatif memiliki peran dalam membangun sikap kritis dan jiwa empati melalui kegiatan-kegitan yang diselenggarakan secara rutin. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan untuk membangun kualitas tersebut adalah melalui diskusi kecil dengan pakar sastra, kelas penulisan dan penciptaan, partisipasi dalam berbagai kegiatan dan penulisan karya sastra, penerbitan karya sastra, aktif dalam pementasan karya sastra, serta terlibat aktif dalam berbagai pelatihan penulisan bagi para generasi muda lainnya. Rangkaian proses yang terjadi dalam Komunitas Sahaja akan berujung pada interaksi antara calon penulis-penulis pemula-penulis senior-pembaca menjadi satu siklus yang berkesinambungan. Kenyataan ini akan berimbas pada peningkatan kualitas penulis muda, pengembangan sastra, sekaligus sebagai strategi kultural yang sistematis dalam menghadapi era global.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nyomansutarsa.wordpress.com/53/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nyomansutarsa.wordpress.com/53/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nyomansutarsa.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nyomansutarsa.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nyomansutarsa.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nyomansutarsa.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nyomansutarsa.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nyomansutarsa.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nyomansutarsa.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nyomansutarsa.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nyomansutarsa.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nyomansutarsa.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nyomansutarsa.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nyomansutarsa.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nyomansutarsa.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nyomansutarsa.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nyomansutarsa.wordpress.com&amp;blog=3868682&amp;post=53&amp;subd=nyomansutarsa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nyomansutarsa.wordpress.com/2008/08/26/esensi-komunitas-kreatif-sikap-kritis-dan-jiwa-empati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd935391f838662cc34fb6b2b6c715cd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutarsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
