Sebelum aku memasuki tempat ini, aku mengingat-ngingat ulang kapan kali terakhir aku mencicipi Cappucino Float di tempat ini, mungkin beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih menjadi pembunuh waktu untuk hal-hal yang menyenangkan. Masa bersama teman penjaja suara dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, hasilnya di habiskan dalam satu malam untuk makan bersama. Semuanya masih terekam dan terkecap manis di batinku. Seperti roda tanpa ujung, kinipun mereka telah pulang dengan hidup dan ceritanya masing-masing. Sesekali kita semua masih tetap saling berkirim kabar, walau hanya sekedar ucapan selamat ulang tahun.
Aku kini telah ada di depan pintu masuk, dengan semua wajah yang tentu saja berbeda dari tahun-tahun lalu, dengan langkah yang juga tidak sama, menemui orang yang tentu saja berbeda dari mereka yang sudah pernah kukenal. Boleh jadi orang-orang yang sedang bercengkrama di meja itu adalah orang yang berbeda, tapi di sana pernah tertinggal tawa dan tumpahan persahabatan yang kini telah mengendap di jiwa. Aku sangat meyakini bahwa mereka tidak pernah pergi, ia hanya menjelma dalam wajah lain, merupa dalam cerita yang baru, tapi ia masih tetap disana.
Lalu, apa sebetulnya persahabatan ? Apakah ia hanya satu maya yang membuat semua orang terlena, atau sebentuk jimat tua yang membuat orang merasa nyaman dan aman, atau juga lambang kekasih bagi mereka yang kesepian, atau hanya sesuatu yang biasa-biasa saja. Lalu siapa sajakah para sahabat ? Apakah orang tua juga bisa dikata sahabat, pacar atau orang-orang tempat kita biasa bercerita adalah semuanya sahabat kita, atau sahabat adalah sebuah status. Entahlah, orang punya cara sendiri untuk memaknai persahabatan dan memilih para sahabatnya.
Di sudut itu aku tidak jelas melihat wajah seseorang, sepertinya aku mengenali wajahnya. Kami berjanji di tempat ini : Obonk, Meja no 19. Pagi tadi seseorang menelfonku dengan no yang tidak aku kenal. Tentu saja suaranya juga tidak kukenal. Aku baru dua kali saja bertemu dengannya. Akhir Oktober di Jakarta, saat pemilihan Duta Bahasa, lalu sekitar Desember di Bogor, saat diseminasi Undang-Undang Kebahasaan. Hanya dua kali, tanpa banyak cerita yang pernah kami bagikan. Dan kali ini di Obonk Meja 19.
Mungkin ini yang disebut awal persahabatan, atau aku yang terlalu melankolis, menganggap semuanya menjadi romantis dan tampak manis. Cerita dan keluhan sangat cepat mengalir. Ada sebentuk rasa percaya yang muncul seketika. Renyah, seperti lapisan tepung Chicken Steak With Cheese yang sedang aku nikmati. Manis, seperti lapisan es krim pada Cappucino float yang sedang aku cicipi. Rasanya tidak banyak yang berubah, kalau dulu aku berkumpul dengan mereka, kali ini juga dengan mereka : para sahabat. Dengan suara lantang, hatiku kemudian berkata : Hyang Widi, Kau yang kuasa atas waktu, saat Kau kirimkan aku orang-orang dan cerita-cerita, saat yang sama aku juga telah menjelma orang dan cerita bagi orang lain. Bukankah begitu hukum yang harus kita lalui ?