Feeds:
Posts
Comments

Pura Besakih

Pura Besakih

Menaiki tangga batu seperti mendaki diri sendiri, semakin tinggi, semakin curam jurang dosa, segala sesal, segala tangis, melebur jadi asap, mengepul lalu menghilang bersama kabut Kintamani

 

 

 

***

“Kami hanyalah manusia-manusia yang papa, jika Kau berikan detik, maka aku akan menjelma kembali menjadi Aku. Aku tak ingin menjalani siksa kubur, tapi aku menginginkan lima unsur, menyatu dengan bumi, lalu lahir kembali menjadi Aku, menjalani karmaphala!

 

Kau-kah yang berbisik di telingaku malam tadi ? Maafkan aku karena tertidur. Aku memimpikan awan pekat, menyamarkan wajah seseorang yang sangat kukenal. Senyumnya yang liat, aku tidak asing dengan rambutnya, dan kerutan di wajahnya. Bibirnya yang hitam terbakar air panas, bukan karena asap rokok tapi gumpalan kafein yang mengendap jadi kulit ari. Di pinggir jembatan dia melambaikan tangannya, sepertinya dia sedang tersenyum atau malah meringis kedinginan. Kabut Batur sangat tebal. Dia menggunakan destar putih, saput berwarna kuning, dan kain batik setinggi betis dengan pola kancut mengerucut lurus ke bumi. Kabut pekat semakin mengumpal, yang tersisa hanya siluet, lalu bayangan itupun menghilang di tengah-tengah riuh. Continue Reading »

Ikan Panggang

Apakah yang kita bayangkan jika kita dihadapkan pada frase ikan panggang? Mungkin rasa gurih, aroma amis yang menusuk, atau tawa girang yang renyah? Memang rasanya sangat harmonis, seperti permen nano nano yang manis, asam, dan asin. Tidak mudah mengecap aneka rasa pada saat yang bersamaan. Tapi itulah yang aku rasakan ketika manggang ikan beramai-ramai di Kisara. Sejenak kita tertawa merayakan indahnya hari ulang tahun, namun kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya kita telah menghabiskan satu tahun dari entah berapa tahun yang kita punya. Akan selalu seperti ini, detik berganti menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi bulan, bulan menjadi tahun, sampai keriput mulai mewarnai hari-hari kita. Bagaimanapun pola waktu yang monoton, tetapi hidup ternyata sangat dinamis. Dari detik ke detik hidup selalu berubah. Manakah yang sesungguhnya abadi : waktu atau perubahan ?

Gadis Bermata Lembut

Jika takdir adalah sebuah kata, maka ia akan terus kuhapus dan kutulis ulang karenamu. Takdir itu berhenti, lalu sekejab saja ia telah menjelmamu, dengan sepasang mata yang lembut dan rambut yang lurus terurai. Kaukah itu, gadis Bali yang diidamkan pujangga. Kaukah itu, perempuan gaib yang merasuki kata para penyair.

 

Tidak pernah kubayangkan jika rahasia akan membuat mata bertatap, atau kata becengkrama. Masih kuingat ketika laju senja membawamu kesisiku. Aku gemetar karena kau yang datang. Adakah sisa malam kemarin, karena disana kau pernah kusimpan, kusimpan dengan sangat rapi, aku tak pernah berani membukanya.

Surat Untuk Adelia

Kunang-kunang yang temaram, jujurlah padaku………

Dari mana kau datang, benarkah dari pecahan kuku-kuku mayat di kuburan?

Aku tahu kau sama bisu sepertiku, maka tuliskan di dinding sana semua kisahmu…

Agar aku mengerti ceritamu…….

Setiap sesal yang kusimpan selalu menjelma jadi gelap. Ia tak pernah mampu membaca isyarat bumi, bayanganku dilumat! Aku dicipta dari tanya, hingga semua ruang menganga, ingin memberi jawab bagi tubuhku. Di darahku mengalir dendam, yang dulu bersenggama dengan ibuku. Jika lubang itu adalah rumahku, dan rahim itu adalah selimutku, akupun ingin memilikinya. Adelia, kaulah diriku…….. Continue Reading »

Obonk: Meja 19

Sebelum aku memasuki tempat ini, aku mengingat-ngingat ulang kapan kali terakhir aku mencicipi Cappucino Float di tempat ini, mungkin beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih menjadi pembunuh waktu untuk hal-hal yang menyenangkan. Masa bersama teman penjaja suara dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, hasilnya di habiskan dalam satu malam untuk makan bersama. Semuanya masih terekam dan terkecap manis di batinku. Seperti roda tanpa ujung, kinipun mereka telah pulang dengan hidup dan ceritanya masing-masing. Sesekali kita semua masih tetap saling berkirim kabar, walau hanya sekedar ucapan selamat ulang tahun.

Aku kini telah ada di depan pintu masuk, dengan semua wajah yang tentu saja berbeda dari tahun-tahun lalu, dengan langkah yang juga tidak sama, menemui orang yang tentu saja berbeda dari mereka yang sudah pernah kukenal. Boleh jadi orang-orang yang sedang bercengkrama di meja itu adalah orang yang berbeda, tapi di sana pernah tertinggal tawa dan tumpahan persahabatan yang kini telah mengendap di jiwa. Aku sangat meyakini bahwa mereka tidak pernah pergi, ia hanya menjelma dalam wajah lain, merupa dalam cerita yang baru, tapi ia masih tetap disana.

            Lalu, apa sebetulnya persahabatan ? Apakah ia hanya satu maya yang membuat semua orang terlena, atau sebentuk jimat tua yang membuat orang merasa nyaman dan aman, atau juga lambang kekasih bagi mereka yang kesepian, atau hanya sesuatu yang biasa-biasa saja. Lalu siapa sajakah para sahabat ? Apakah orang tua juga bisa dikata sahabat, pacar atau orang-orang tempat kita biasa bercerita adalah semuanya sahabat kita, atau sahabat adalah sebuah status. Entahlah, orang punya cara sendiri untuk memaknai persahabatan dan memilih para sahabatnya.

            Di sudut itu aku tidak jelas melihat wajah seseorang, sepertinya aku mengenali wajahnya. Kami berjanji di tempat ini : Obonk, Meja no 19. Pagi tadi seseorang menelfonku dengan no yang tidak aku kenal. Tentu saja suaranya juga tidak kukenal. Aku baru dua kali saja bertemu dengannya. Akhir Oktober di Jakarta, saat pemilihan Duta Bahasa, lalu sekitar Desember di Bogor, saat diseminasi Undang-Undang Kebahasaan. Hanya dua kali, tanpa banyak cerita yang pernah kami bagikan. Dan kali ini di Obonk Meja 19.

            Mungkin ini yang disebut awal persahabatan, atau aku yang terlalu melankolis, menganggap semuanya menjadi romantis dan tampak manis. Cerita dan keluhan sangat cepat mengalir. Ada sebentuk rasa percaya yang muncul seketika. Renyah, seperti lapisan tepung Chicken Steak With Cheese yang sedang aku nikmati. Manis, seperti lapisan es krim pada Cappucino float yang sedang aku cicipi. Rasanya tidak banyak yang berubah, kalau dulu aku berkumpul dengan mereka, kali ini juga dengan mereka : para sahabat. Dengan suara lantang, hatiku kemudian berkata : Hyang Widi, Kau yang kuasa atas waktu, saat Kau kirimkan aku orang-orang dan cerita-cerita, saat yang sama aku juga telah menjelma orang dan cerita bagi orang lain. Bukankah begitu hukum yang harus kita lalui ?

Terompet Akhir Tahun

Saat sunyi datang

Hati lirih

Hari tak usai

usia tak kembali

 

Selipkan nafas terompetmu, anakku

Berikan aku hidup

Karena sunyi menyakitkan

Walau pilu adalah makna

Nyalakan api obor, anakku

Berikan aku warna

Karena hitam menyesatkan

Walau hitam adalah malam

 

Jalan ini terlalu kecil untuk kita, anakku

Sunyi mendekat

Riuh menjauh

Sunyi mendekat

Jiwapun pergi

 

Saat sunyi berbunyi

Hati lirih

Hari tak usai

Usia tak kembali

 

-Denpasar, Puputan, 2008-

Air mata adalah buih yang terpilin arus duka

Mengerang karena ombak berdebur

Larut karena matahari lebur ke dasar

 

Disana,

Seorang tua duduk bersandar pada angin

Hari terlalu berat bagi punggung rapuh

Bukan usia

            Tapi ngilu jiwa

Ia bertemu pandang dengan ombak

Bercerita tentang malam yang tak usai

Atau pagi yang tak kunjung

Semakin jauh menuju riuh

 

Entah batu, entah kerikil

Ia mengambil segala yang hitam

Entah batu entah kerikil

Ia mengambil tanpa henti

Bukan kerja

            Tapi kosong

Air mata serupa buih

Hitam,

Entah batu entah kerikil

Hanya seorang tua di tepi pantai

Detik

Detik dan roda itu selalu berebut ruang. Entah siapa yang akan tersingkir. Tidak sekedar kalah, melainkan siapa yang akan terbunuh dan siapa yang akan jadi pembunuh. Detik bisa menjadi awal dan akhir roda pedati, lalu roda itu terus dipaksa menggelinding mengikuti putaran detik, setiap detik semakin kencang, lalu brak hancur menghantam dinding yang angkuh. Sejenak roda terhenti dan tidak lagi berada pada ruang yang sama, tapi detik terus berputar, tapi roda berhenti berputar. Roda stabil kembali, lalu dipaksa berputar oleh detik, semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat: lalu detik berhenti dan rodapun diam seketika. Siapakah yang kalah, siapakah yang tersingkir?

 

Seandainya waktu bisa kuputar ulang, aku ingin kembali ke satu masa kanak-kanakku dulu. Saat aku masih berkawan dengan sungai dan sawah. Mereka tidak mengajariku bermimpi, tapi menikmati detik-detik yang aku punya. Mimpi hanya hayalan katanya. Aku menutup rapat kedua telingaku, ketika mereka tidak mengerti tentang mimpi. Aku seorang pemimpi, berlarian di awan dan tumbuh jadi bintang.

 

Setiap detik berdenting, usia juga menua. Waktu selalu begitu, membuat kita bertambah tua, memahat kerutan di kening, mewarnai rambut jadi uban, atau tulang yang semakin keropos. Waktu selalu saja membuat kita menjadi manusia yang tidak berdaya. Ini membuatku terus bertanya, apakah tidak ada waktu untuk Sang Waktu? Kapan waktu akan menjadi tua? Lalu dimana dia akan dikubur kalau dia mati ?

Jerawat Aneh

Aku punya kebiasaan yang sangat aneh. Aku sering menghitung jumlah jerawat yang tumbuh di wajahku. Anehnya lagi, setiap kali kuhitung jumlahnya selalu bertambah dan selalu ganjil. Aku sangat kuatir, lama kelamaan wajahku akan berbintil-bintil, menyerupai monster yang mengerikan. Kemana pun aku pergi, aku selalu membawa cermin, setiap akan bertemu orang, aku akan mengeluarkan cermin, melihat jerawat-jerawat aneh di wajahku, kuhitung seperti aku menghitung bintang, ternyata memang aneh: jumlahnya selalu ganjil.

 

Namaku Nilam. Aku adalah gadis belia 17 tahun. Saat ini aku kelas 2 SMU. Aku dipanggil ratu cermin oleh semua orang. Gantungan – gantungan mungil di hp-ku adalah cermin. Di sisi luar tas sekolahku juga kutempeli cermin bulat. Kotak pensil yang kupilih adalah yang memiliki cermin di bagian dalamnya, jadi setiap kali kubuka dan mengambil pulpen, aku bisa bercermin dan menghitung jerawatku. Rautan pencil merah kecil bulat, dengan cermin akan selalu ada di saku bajuku. Di dinding kamar sebelah kiri, aku meletakkan cermin bundar yang besar, dipinggirnya dibalut dengan pernak pernik segitiga warna-warni. Disebelahnya adalah tempatku biasa menggantung tas, jadi setiap kali aku pulang sekolah, aku tidak akan pernah lupa menyapa cerminku, tapi dia terlalu jujur dan selalu begitu. Dia tidak pernah menghiburku, dia juga tidak pernah menyembunyikan sebutirpun jerawatku. Cermin ini jauh lebih jujur dari ibuku, dari guru-guruku di sekolah, bahkan dia lebih jujur dari para pejabat pemerintahan. Seandainya mereka mau bercermin pada cerminku, maka mereka akan terlihat bugil dan hatinya akan menganga. Di dinding kamarku sebelah kanan kuletakkan sebongkah cermin kotak yang dibingkai kayu jati berukuran satu meter kali satu meter. Disebelahnya adalah meja belajar dan lemari pakaianku, jadi setiap aku hendak belajar atau mengambil pakaian, benda pertama yang kulirik adalah cermin itu: kudekatkan wajahku, terlihat jerawatku yang merah, kuhitung perlahan, jumlahnya tiga belas, padahal tadi pagi jumlahnya sebelas: aneh selalu bertambah dan selalu ganjil. Di atas meja belajar aku juga meletakkan sederetan cermin. Mereka semua adalah temanku, mereka selalu setia dengan kejujurannya, mereka tidak pernah mengeluhkan tentang kebiasaan anehku, yang terpenting mereka tidak takut, mereka juga tidak pernah menghinaku. Continue Reading »

Budaya tidak lagi menjadi unsur penguat jati diri, melainkan satu daya peluntur nilai-nilai lokal. Benturan budaya global telah membawa perubahan mendasar pada pola pikir manusia. Manusia cenderung tumbuh menjadi mahluk hedonis, pemburu kesenangan. Pada saat semua situasi menjadi serba permisif, kelangsungan hidup ataupun sistem budaya lokal akan menjadi sangat terancam. Semua ini adalah tantangan yang harus dijawab oleh seluruh aspek masyarakat, bukan untuk ditolak, bukan untuk dihindari, melainkan disiasati lalu dikelola dengan arif, sehingga tidak lagi menjadi ancaman, melainkan menjadi unsur penguat kemajuan bangsa.

Satu pertanyaan kemudian muncul dari pemikiran dan renungan mendalam, siapakah yang paling terpengaruh dari rangkaian perubahan tersebut? Berbagai ahli budaya, para psikolog, tokoh agama, akademisi, dan penyelenggara kesehatan menyepakati bahwa remaja adalah elemen yang paling rentan, sehingga upaya preventif dapat diawali dari lapisan remaja. Remaja sendiri adalah unsur angkatan kerja produktif era dasawarsa mendatang. Perubahan sekecil apapun pada remaja, akan berdampak besar bagi kelangsungan bangsa dalam rentang waktu 10 tahun kemudian. Sangat beralasan apabila mulai saat ini, segala perhatian yang terus menerus diberikan bagi remaja. Justru hal ini harus menjadi agenda utama dalam setiap lini pembangunan sumber daya manusia, karena masa depan bangsa ditumpukan pada kualitas remaja masa kini. Continue Reading »

« Newer Posts - Older Posts »